Adika fajar isn’t the most popular kid in school. Or the brightest. Or the most athletic.

Terlalu idealis apa goblok?

March 25, 2008 · 3 Comments

dear all, ada beberapa hal yang awalnya sungkan untuk ditulis diblog ini karena saya anggap terlalu sensitif. Akan tetapi karena ada saran (sekaligus pendorong) untuk  menjelaskan duduk permasalahan secara lengkap, maka posting ini saya susun ulang secara lebih mendetail dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada individu dan perusahaan yang disebut.
Beberapa hari yang lalu saya menerima panggilan kerja dari Mitsubishi Corporation untuk menempati posisi staf di divisi machinery. Dalam email, disebutkan bahwa klien yang akan saya kelola adalah Pertamina dalam proyek join co-op proyek LNG antara Mitsubishi-Medco-dan Pertamina.

Ditawarkan posisi sebagai staf permanen dengan basic salary ^ juta yang bagi saya sangat fantastis untuk seorang bocah ingusan baru lulus yang nggak tahu apa-apa seperti saya. Melalui balasan email, saya menyanggupi jadwal tes pada hari selasa lalu. Tes yang dilakukan meliputi tes translasi dokumen (english to bahasa), tes kemampuan hitung, tes psikologi+esay. Alhamdulillah semua prosedur itu bisa saya lalui. Tes demi tes udah dilewati, tinggal tahap akhir yaitu interview dengan si bos dari Jepang, eh saya dengan mantapnya milih pulang.

Melengos kabur begitu saja. Alasannya simpel, saya tidak suka dengan gestur, sikap dan cara staf lokal berinteraksi dengan kami, para peserta tes yang berjumlah 7 orang. Kesannya meremehkan, dingin dan kaku. Sebelumnya tes sempat molor dari awalnya dijanjikan mulai jam 08.30 ternyata dimulai jam 09.30 karena Staf HRD-nya telat, alasan sih ada rapat pagi. Setelah selesai tes pada jam 11, 10 menit kemudian diumumkan peserta yang lolos. Alhamdulillah nama saya masuk.

selanjutnya diumumkan kepada kami untuk menunggu sampai jam setengah dua karena harus menunggu calon bos yang datang langsung dari jepang selesai makan siang. Saya mulai muak dengan mereka. Tidak tepat waktu, nggak ramah, selanjutnya menyuruh kami menunggu dua setengah jam hingga si bos selesai makan siang.

..dan akhirnya saya melangkah pergi.

Ketika sudah sampai pelataran BEI saya ditelpon oleh HRD. Mbak HRD setengah ngomel ditelpon, kata dia kesempatan ini nggak datang dua kali lho pak. Auk ah..maap ya mbak.

..ya Allah SWT maafkan hambamu ini yang dengan naifnya menjauhkan diri dari kesempatan dapat pekerjaan. Entah kenapa kaki ini bergerak begitu saja menjauhi kantor itu, semoga hal tersebut adalah petunjuk dari-Mu. Amiin.
(btw hari ini ketemu sohib lama setelah setahun lamanya tidak berjumpah, kebetulan kantor dia di tower 2 gedung yang sama. Eh wince kalo kamu baca ini thanks yaa untuk traktiran es teh manisnya)

→ 3 CommentsCategories: Uncategorized

Kebersihan adalah bagian dari iman. menghargai petugas kebersihan juga bagian dari iman

March 12, 2008 · 2 Comments

Petugas cleaning service, posisi mulia yang tidak semua orang ingin. Jika boleh memilih pasti kita akan menghindari pekerjaan kotor seperti menggosok toilet, mengepel, membersihkan kotoran yang menempel di lantai WC atau sekedar membersihkan sisa makanan yang berserakan. Kehadirannya di kantor (atau kampus) kadang dipandang sebelah mata. Sering diantara kita masuk WC dan lupa menyapa teman–teman petugas kebersihan.

Di kampus saya, beban kerja mereka sangat berat. Kehidupan kampus yang dimulai jam enam pagi dan baru berakhir jam 10 malam menjadikan beban pekerjaan mereka menjadi lebih berat. Tidak jarang saya membandingkan beban kerja mereka dengan sesama rekan petugas kebersihan yang berada di kantor lain atau mal yang tentunya dengan problem kebersihan yang tidak seberat di kampus saya.

Setiap orang punya cara sendiri untuk merubah nasib. Saya salut dengan mereka para petugas kebersihan di kampus yang kadang bekerja hingga jam sepuluh malam. Mereka digaji perjam, tiap harinya diupah sekitar Rp.22.000 dan rata-rata mereka bekerja sepuluh jam sehari. Tugas yang melelahkan, tapi mereka selalu bisa tersenyum saat ada orang melintas di lantai yang barusan mereka pel. Ikhlas hasil kerjanya dikotori lagi oleh kaki basah orang-orang yang melangkah dari tempat wudhu ke musholla.

Ada seorang petugas kebersihan di kampus yang tidak disukai oleh teman saya karena dianggap selalu menggerutu. Perilaku dia yang menyebalkan mungkin disebabkan oleh pekerjaan?
Entahlah. Awalnya saya juga tidak menyukai sikap dia yang awalnya saya anggap sedikit kurang ajar. Saya mulai mencoba menyapa dia sama seperti menyapa teman-teman yang lain. Lama kelamaan orang ini mulai bersikap baik dan mulai menyapa ramah terlebih dulu jika saya melintas didepannya.

Beberapa hari yang lalu saya berbincang-bincang dengan si petugas kebersihan itu. Hari itu dia cerita kepada saya mengenai pekerjaannya. Dia dituntut oleh atasan untuk segera
membersihkan ruangan pada akhir perkuliahan, itu sudah masuk dalam prosedur kerja yang harus dipatuhi. Seringkali dia merasa kesal saat para mahasiswa tidak segera keluar dari kelas ketika pelajaran selesai dan bahkan meninggalkan begitu saja barang-barang di dalam kelas. Beberapa kejadian barang hilang yang akhir-akhir ini sering terjadi di kampus membutuhkan kambing hitam yang tepat. Pihak yang paling lemah dan selalu disalahkan jika ada kejadian barang hilang adalah para petugas kebersihan. Setelah tuntas mendengarkan ceritanya saya berkesimpulan bahwa si petugas cleaning service itu ternyata tidak jauh berbeda dengan saya yang juga ingin dihargai dan diperlakukan manusiawi.

Banyak hal yang bisa kita lakukan menghargai untuk mereka, mulai dengan tidak membuang bungkus makanan disembarang tempat, selalu membuang sampah ke tempat sampah yang disediakan, bersegera keluar kelas setelah pelajaran selesai agar mereka bisa langsung membersihkan, menyapa mereka jika bertemu pandang, memeriksa kebersihan kloset sehabis kita pakai, membersihkan sepatu ke keset sebelum melintas di lantai yang barusan mereka pel, dan sebagainya. Banyak hal-hal kecil yang bisa kita lakukan untuk menghargai mereka.

→ 2 CommentsCategories: Uncategorized

Pernah menikmati kuliah bermutu dengan hanya membayar Rp 650.000 rupiah tiap semester?

March 12, 2008 · 1 Comment

Saya menikmati kemewahan itu di UNAIR, kampus negeri yang (konon katanya) terpandang di kawasan Indonesia timur. Sekarang sih juga lagi menikmati kuliah bermutu (…namun dengan biaya yang bisa untuk menyekolahkan 500 anak putus sekolah..)

Saya dulu masuk Unair melalui sebuah sistem yang disebut SPMB. Sistem yang saat ini menjadi topik panas dalam perbincangan mengenai sistem pendidikan di Indonesia. Sistem penerimaan ini ditentang oleh beberapa universitas negeri, termasuk juga Unair dan ITS. Katanya sih masalahnya sepele, urusan duit dari pusat yang nggak jelas.

Uang, inti dari segala kerumitan ini.

Dengar di radio tadi pagi bahwa sebenarnya biaya yang dikeluarkan untuk memproses satu calon sebesar Rp.150 ribu (IPA/IPS) sampai Rp. 170 ribu (jika mengambil pilihan IPC). Itu masih biaya pokok belum lain-lain. Pihak pihak yang menolak sistim SPMB mengatakan bahwa tidak ada transparansi mengenai uang yang dikumpulkandari para calon mahasiswa. (ah, kayak nggak tahu aja dari dulu kan juga seperti itu. aneh kok baru teriak-teriak sekarang)

Keputusan itu akan menghasilkan kerumitan baru bagi para calon mahasiswa. Dengan berlakunya dua sistem, SPMB dan UMPTN (sistim ini dikelola swadaya oleh kampus yang menolak sistim SPMB) pasti sedikit banyak akan berdampak pada biaya dan waktu yang dikeluarkan oleh calon mahasiswa. Di negara yang tercinta ini mau daftar sekolah aja sudah keluar ongkos macam-macam. Kalo nggak salah dulu tahun 2002 saya beli formulir SPMB seharga Rp. 200 ribu, entah sekarang berapa biaya yang harus dikeluarkan calon mahasiswa.

Apakah dua sistem ini akan benar-benar menambah kesulitan bagi calon mahasiswa? entah. Coba telaah skenario ini: si Mumun anak desa yang pintar dan cerdas, nilai EBTANAS (nilai akhir) nyaris sempurna dan menjadi salah satu peraih nilai tertinggi di level Provinsi. Si Mumun ingin mencoba peruntungan dengan mendaftar di fakultas psikologi UI. Si mumun tidak begitu saja menggantungkan nasib pada satu pilihan, dia juga butuh cadangan. Pilihan kedua jatuh pada fakultas psikologi UNAIR yang mengadakan seleksi swadaya bernama UMPTN. Si mumun harus beli formulir SPMB jika ingin ke UI, dan dia juga harus punya formulir UMPTN jika ingin ke Unair.

Duit dari mana Mun? daripada uang hilang jika gagal masuk SPMB dan UMPTN akhirnya bapak si Mumun menyarankan anaknya masuk kursus menjahit di dekat rumah yang jauh
lebih murah dari segi biaya. Akh..

→ 1 CommentCategories: Uncategorized

Jhon, Jhon dan Jhon yang mengilhami dan memberi inspirasi.

March 5, 2008 · No Comments

John scofield, John lowery dan John mayer. Tiga Joni ini sama-sama gitaris dan aransemen musik yang mereka ciptakan adalah definisi tunggal untuk musik yang bagus (menurut saya).

//www.kalamu.com/bol/wp-content/content/images/scofield.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.

Jhon yang Scofield adalah gitaris jazz yang memiliki keunikan dari gaya bermain staccato, improvisasi unik, soulful dan pilihan nada yag dia pilih selalu menyentuh emosi terdalam (tsaah..).  Untuk pemula yang ingin berkenalan dengan Scofield coba dengar track “I don’t need no doctor”.

http://www.musicgearreview.com/dbpix/john5.jpg

Jhon yang kedua adalah John lowery atau biasa dipanggil John 5. Mantan gitaris Marlyn manson, ex-player di Rob Zombie dan suami dari pemain bokep terkenal yang saya lupa namanya. Senjata andalannya Fender Telecaster J5 signature (yang replikanya saya bikin disemarang, penting gaya). John 5 adalah seorang shredder era modern, kalo kamu dengar dia main pasti terkesima dengan pilihan nada yang sangat merepresentasikan aura gothic, gloom. Dark. Sisi lain dari dirinya adalah gitaris folk country. Gila. Di satu malam bermain metal cadas dan di malam yang lain going country ria. Mulailah mengaguminya.

http://www.jurick.net/news/uploaded_images/mayer_cropped-767214.jpg

Yang terakhir, John mayer. Punggawa blues era baru yang mampu membawa blues seringan mungkin hingga cewek-cewek wangi pun mendekat. Bakat dan talenta bermusiknya luar biasa, mampu memberikan nyawa untuk seluruh lagu. Terhitung mulai dari eric clapton, john scofield dan senior blues lain dengan sudi hati mau ber-jam session dengan Mayer. Album TRY! Adalah favorit saya sepanjang masa. Disitu dia bermain dengan lepas, liar, penuh improvisasi dan secara utuh menunjukkan talenta yang dimiliki.

→ No CommentsCategories: Uncategorized

Pekerja Keras selalu masuk angin, orang pintar jual obat masuk angin

February 6, 2008 · No Comments

Setelah menyetir terlalu lama saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan saya.

“Abang mau beli kue?” Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya.

“Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan,” jawab saya ringkas dan akhirnya dia berlalu.

Pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Gak sampe 20 menit kemudian saya
melihat anak tadi menghampiri calon pembeli lain. Saya lihat dia menghampiri sepasang suami istri. Mereka juga menolak tawaran anak itu, dan dia berlalu begitu saja.

“Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?” tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya lagi.

“Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih,” kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pun pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, “mau beli kue saya Bang, Pak… Kakak,… Ibu.” Halus budi bahasanya pikir saya.

Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Namun belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi sudah berdiri di samping mobil. Dia tersenyum kepada saya. Saya turunkan kaca jendela, dan membalas senyumannya.

“Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlu bawa kue saya buat oleh-oleh untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang,” katanya sopan sekali, sambil tersenyum. Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya.

Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati.
Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya. “Ambil ini Dik! Abang sedekah… Tak usah Abang beli kue itu.” Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan yang meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima restoran. Saya gembira dapat membantunya.

Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah kagetnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis buta. Saya terkejut, saya hentikan mobil, dan memanggil anak itu. “Kenapa Bang, mau beli kue ya?” tanyanya.

“Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!” kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

“Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis.
Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat Bang!” katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

“Abang mau beli semua ?” dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata. “Rp 25.000,- saja Bang….” Dengan gembira dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan berlalu dari pandangan saya.

Ya Tuhan!. Saya hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati, Adakah produser sinetron yang mau mengangkat cerita ini jadi FTV terbaru?

→ No CommentsCategories: Uncategorized

Berbuat baik dengan tulus atau pura-pura berbuat baik saja?

February 1, 2008 · No Comments

Kebenaran moral mengajarkan bahwa berbuat baik itu harus disertai ketulusan. Tapi apakah ketulusan berbuat baik benar-benar pilihan yang paling tepat?

Coba kita telaah. Dalam kaidah game theory dijelaskan posisi yang diambil oleh pihak kedua-lah yang menentukan insentif
yang diterima pihak pertama. Strategi yang paling optimum adalah ketika semua orang berbuat baik untuk orang lain.
Si pelaku kebaikan tentu tidak mau dibalas dengan kejahatan, sehingga memilih berbuat baik hanya pada sesama pelaku kebaikan. Secara prinsip, dengan berbuat baik kepada orang lain maka kita lebih berpeluang memperoleh insentif berupa (balasan) perbuatan baik. Jika pihak kedua telah memastikan juga akan berbuat kebaikan maka perbuatan baik akan dilakukan dengan tulus, jika tidak, maka pihak pertama dapat memilih pura-pura berbuat baik saja.

Nah, seberapa efektifkah menjadi seorang yang selalu tulus berbuat baik?

Dalam interaksi jangka pendek memang lebih menguntungkan pura-pura berbuat baik, tapi jika kita menyadari bahwa hidup
adalah permainan yang berulang-ulang (repetitive game), strategi yang paling baik adalah tulus berbuat kebaikan dan berbagi insentif melalui kolaborasi.

Bagaimana caranya mendeteksi apakah seseorang pura-pura berbuat baik atau tulus berbuat kebaikan? Gampang, pada interaksi-interaksi awal sebagian besar orang masih belum tulus melakukan kebaikan. Semua manusia memiliki naluri mengoptimalkan utilitasnya dengan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian berbuat baik. Sulit untuk bersikap tulus pada interaksi pertama jika masih ragu dengan reaksi pihak lawan. Seseorang baru bisa dikatakan bersikap tulus jika unsur afeksi lebih kuat mempengaruhi tindakan, sudah tidak peduli lagi dengan optimalisasi keuntungan dan konsisten melakukan kebaikan walaupun kadang menimbulkan dis-insentif bagi diri sendiri.

Ah sudahlah….

(posting ini terinspirasi dari bahasan di diskusi ekonomi.com)

→ No CommentsCategories: Uncategorized

January 11, 2008 · No Comments

Dscn9906ke taman mini, januari 2008:

belajar gamelan di anjungan bali.

makan siang bareng di pinggir danau. aik makasih schootelnya ueenak maknyuss.

nonton ribuan ikan dan ribuan kupu-kupu. ketemu araiphama fish yang gueeede buangett.

melihat matahari terbenam yang paling indah selama setahun tinggal di jakarta.

tentunya, hari itu kami masih lupa umur. hehe.

Kunjungi Taman Mini, Cintai Indonesia! yeaah!

→ No CommentsCategories: Uncategorized

5 reason why i love testing

January 10, 2008 · No Comments

-keep me away from big mistakes
-keep me away from unexpected failure
-keep me away from small mistakes
-keep me away from losing my credibility
-keep me away from losing my money

→ No CommentsCategories: Uncategorized

aku menatap kantong plastik hijau, dan dia balas menatapku

January 10, 2008 · No Comments

Si Kasir berkata: nggak beli kantong plastiknya Bu? Ibu saya cuma melengos, entah karena tidak suka dengan model tas, merasa tidak perlu beli kantong plastik atau karena terburu-buru. Tapi saya yakin Ibu tidak beli bukan karena tidak mendukung isu penyelamatan lingkungan.
Beliau cukup peduli kok, buktinya saya selalu diteriaki jika lupa mematikan
lampu atau menggunakan air secara berlebihan.

Dsc01276

Kantong plastik ini dijual dengan harga 2000 rupiah dan bisa anda beli di Carrefour terdekat. Apa keistimewaan dari kantong plastik ini? Gambar pohon, warna hijau dan tulisan “selamatkan lingkungan” rasanya cukup untuk menjelaskan makna kehadiran kantong plastik itu.

Isu lingkungan..??

Saya rasa kurang bijak mengaitkan kantong plastik itu dengan misi penyelamatan lingkungan hidup. Ada ada saja Carrefour kalau mau ambil untung..

Memang benar, bahwa kantong belanja berkontribusi pada pencemaran lingkungan. Karena itu banyak yang menganjurkan kita membawa sendiri kantung belanja dari rumah untuk mengurangi sampah kantong plastik. Tapi berapa banyak orang yang paham dan mempraktekkan?

Keputusan Carrefour untuk menjual kantong plastik “lingkungan” akan mengarah ke komersialisasi daripada misi lingkungan ketika motivasi para pembeli kantong plastik bukan untuk pemakaian ulang. Entah berapa banyak orang yang beli kantong plastik itu. Apakah mereka beli karena karena prihatin dengan kerusakan lingkungan, atau mereka membeli cuma karena suka dengan model dan gambarnya.

Kembali ke Carrefour. Apakah Carrefour sudah mensosialisasikan konsep penyelamatan lingkungan kepada para pelanggannya? Belum tuh.

→ No CommentsCategories: Uncategorized

Pemilik remote TV dengan segala kedigdayaannya mampu menguasai dunia pertelevisian

January 9, 2008 · 1 Comment

.. dari sudut pandang pemilik remote TV.

Para pemegang remote TV memiliki kekuasan absolut. Para pemilik kekuasaan absolut tidak perlu loyal kepada objek yang dapat mereka kontrol. Merekalah yang memiliki kuasa atas eksistensi objek. Dalam kenyataan, kita punya pilihan +/- 13 stasiun tivi nasional, plus beberapa TV lokal, belum lagi mereka yang berlangganan TV kabel tentunya memiliki kesempatan untuk mengkonsumsi informasi dari beragam provider. Pemirsa TV yang paham betul bahwa mereka memiliki kekuasaan absolut atas beberapa alternatif pasti tidak akan loyal pada (siaran) TV.  Apa susahnya untuk mengambil remote dan mengganti saluran tivi?

Loyalitas adalah symptom awal dari kekecewaan. Jika pada suatu saat acara tv yang ditunggu-tunggu itu menyajikan tayangan yang tidak menarik, dapat dipastikan timbul kekecewaan, itu lumrah. Tapi apakah kekecewaan itu benar-benar dalam konteks yang tepat? Suatu contoh, acara berita di TV. Yang terpenting adalah motif dibalik menonton acara berita di TV: untuk mengetahui update berita terkini? Memperoleh informasi macet tidaknya jalanan, ingin hiburan dari berita-berita humanisme? Atau sekedar menyibukkan mata dan pendengaran sembari makan pagi?

Kita adalah monopolis sejati saat memegang remote TV. Prinsip insentif-disinsentif merupakan mekanisme yang menggerakkan jempol menekan tombol untuk memindah saluran tivi. Kita baru kecewa jika tidak punya pilihan lain, itulah kekecewaan absolut (halaah…) Jika acara tivi yang saya sukai, tiba-tiba secara konsisten menyajikan tampilan yang kurang berkualitas (menurut pendapat saya pribadi) dan membuat saya tidak bergairah lagi menonton, maka saya tidak akan berpikir dua kali untuk menekan remote TV dan langsung mengakses berita di media lain. Sudah itu saja, saya memilih jadi silent complainer  dan merasa tidak punya kewajiban untuk menjaga kualitas siaran TV nasional. Dengan diam, insentif yang saya peroleh jauh lebih besar dari alternatif complain lain yang dapat saya lakukan.

Apatis? entah.

Mungkin banyak orang seperti saya di Negara ini sehingga sinetron yang menye-menye membanjiri hampir seluruh tv nasional, band tiga kord disanjung bagai radja disetiap acara musik. Berkebalikan, ada segelintir orang yang kritis dan langsung bergerak untuk memberikan saran. Bahkan ada yang langsung mengirim sms ke penyiar saat siarannya memburuk. (Atau saat itu lebih mudah menjangkau handphone dari pada remote TV? ;-p).

Saya sendiri sih lebih suka menonton siaran berita di TV dengan volume di-mute, penyiar cantik itu telah memikat saya, meskipun wajah dia judes dan beritanya kadang nggak penting. Untuk melahap informasi, saya lebih percaya dengan internet dan tv kabel. Bukannya saya tidak percaya dengan omongan penyiar cantik itu…

               

 

====================================================================
masalah juga dapat muncul jika terlalu banyak yang memegang remote. semua merasa berhak untuk mengubah. beberapa kekuasaan tidak ditangan yang tepat.

ah sudahlah..

→ 1 CommentCategories: Uncategorized