Bahagiakah kamu dengan karirmu saat ini? apakah yang kau kerjakan saat ini benar benar suatu hal yang sangat kamu cita-citakan saat masih berusia 15 tahun? ………………………………………………………..
Orang yang pesimis pasti mengubur impian masa kecilnya ketika telah beranjak dewasa dan menghadapi realita bahwa mengejar cita-cita tidak semudah yang dikira. Untuk mereka yang optimis dan tidak kenal kata menyerah pasti akan selalu mengisi jiwa dengan motivasi-motivasi baru agar terus bersemangat mengejar impian.
Tidak ada impian yang salah, ngawur, terlalu rendah atau terlalu tinggi. Kesalahan terbesar adalah jika memutuskan berhenti mengejar impian. Mimpi saya waktu jaman SMA sih simpel saja: kalo gede pengen jadi musisi yang giat membuat aransemen di studio musik pribadi berfasilitas super lengkap pada malam hari dan pagi harinya mencari uang untuk membayar cicilan rumah studio itu dengan berprofesi menjadi dosen di fakultas ekonomi. Ketika lulus sarjana S1 saya tegaskan lagi impian tersebut: dosen jurusan pemasaran. Nah, lulus S2 makin mantap saja cita-cita saya: dosen dengan minat penelitian pada corporate level strategy, corporate branding, SCM dan logistic system, e-channel management.
Kalau melihat realita hidup sekarang, kok saya malah sign kontrak dengan perusahaan farmasi. Beranjak dari rasa frustasi sejak gagal tes med-check untuk posisi sebagai credit analyst di Banknya Beni (nyesek euy..gila tinggal selangkah), saya sempat putus asa lalu gelap mata melamar kesemua perusahaan yang buka lowongan sampai akhirnya dipanggil oleh si market leader farmasi ini.
Posisi ditawarkan sebagai MDP, kompensasi yang diberikan cukuplah untuk nabung beli sebiji Fender Telecaster, dan perusahaannya berprospek cerah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tapi jujur, saya sangat sangaaat tidak nyaman dengan keputusan yang telah saya buat. Rasanya mual dan eneg kalo membayangkan harus bekerja di perusahaan distribusi farmasi dimana sindikasi perdagangan obat di indonesia membuat harga obat-obatan jadi sangat mahal dan susah diakses pasien ekonomi lemah (menurut menteri kesehatan Bu. Siti Fadilah Supari). Sementara perusahaan ini memonopoli distribusi puluhan produsen obat asing a.l. G*ax*, P**z*r, *v*nt*s, dst dst. Harga obat di Indonesia tidak rasional…besok saya akan kekantor untuk resign.
Saya memilih untuk menganggur lagi, mengirim surat lamaran lagi dan terus mengejar cita-cita jadi dosen, walau nantinya mungkin cuma diterima di universitas biasa-biasa saja yang tidakĀ mentereng tapi saya yakin saya pasti menemukan lentera jiwa saya disana. Kebahagiaan menebar pengetahuan, membagi idealisme dan pandangan hidup, berdiskusi dengan mereka yang punya minat studi yang sama, berkehendak sesuai kata hati pasti akan lebih bermakna untuk kelanjutan hidup saya yang sejauh ini rasanya masih mengikuti pola yang dibuat orang lain..
ah sudahlah, serius amat nulisnya..
4 responses so far ↓
camel-charming // Oct 31st 2008 at 3:25 am
setuju!
budhe // Nov 1st 2008 at 9:21 am
hmm kau yg menjalani kau yg tau terbaik untuk dirimu.. orang2 kaya kita gini, masih diliputi rasa idealisme yg tinggi dlm mencapai sesuatu. ada bagus dan engganya dan hanya kita (dan Tuhan) yg tahu.
Eniwei, masi inget rumus “life” mu? trnyata bekerja (work) tanpa mimpi (dream) tak menjamin kehidupanmu menyenangkan tho? hehehe… itulah mengapa mimpi diperlukan.. don’t be too serious sob..
budhe // Nov 1st 2008 at 9:41 am
oya, just sharing idea.. aku baru aja mempelajari efek “mimpi” dr dua orang sahabat kita tercinta. mereka berdua punya mimpi (ini sih cuma definisiku aja) yaitu menikah. aku tahu, mereka berdua memiliki idealisme di level yg sama seperti kita. tp lihat apa yg terjadi, demi mewujudkan mimpi mereka, mereka rela melepaskan idealisme itu. meskipun tak sesuai dengan yg mereka inginkan, mereka tetap saja menjalaninya (dengan berjuta keluhan dari mereka setiap harinya, toh mereka masih survive hingga sekarang). Jd intinya, ada banyak jalan menggapai mimpi dan diperlukan pengorbanan yg luar biasa untuk menggapai mimpi. Walau aku jg belum bisa melakukannya,tapi aku rasa cara mereka ada benarnya juga. hehehhehe…
teman // Dec 14th 2008 at 10:38 pm
hebat…sungguh…untuk takaran orang sepertiku yang tidak memiliki cita-cita apapun. Selamat kawan, kau telah menemukan jati dirimu yang sebenarnya dikala orang lain harus mencari seumur hidup mereka.
Leave a Comment