Adika fajar isn’t the most popular kid in school. Or the brightest. Or the most athletic.

Entries from October 2008

Bunko, lost in cubicle

October 30th, 2008 · No Comments

www.johnnybunko.com Go there and read the rest of stories, you will get an unconventional lesson on how to deal with vapidness life.

Bunko’s six lessons of satisfying, productive careers:

1.There is no plan.

2.Think strengths, not weaknesses

3.It’s not about you.

4.Persistence trumps talent.

5.Make excellent mistakes

6.Leave an imprint.

I made my own definition for Bunko’s six lesson. Here they are:

1. There is no plan, Yeah rite. Most of breaktrough aren’t well planned. It’s just come easily as like when you fart.

2. Think strengths, people sometimes worrying unimportant thing, their weakness.

3. Do the most right thing right in the exact time, or other people can’t get what they deserve.

4. Talent is a key resource to be used at an opportune moment.

5. Mistakes is easily recognized by others, announce to everyone that you are the most responsible person that can be blamed on. Turn your life from a guilty ones to weekend hero by using a well prepared explanation due to the problem and bright solution that might save the rest of your career.

6. Leave an imprint, in this case make your digital path, and let other people googling your data to ensure that they had made a good decision choosing you as a working partner.

Hehe.

Tags: Uncategorized

Apa yang kucari?

October 30th, 2008 · 4 Comments

Bahagiakah kamu dengan karirmu saat ini? apakah yang kau kerjakan saat ini benar benar suatu hal yang sangat kamu cita-citakan saat masih berusia 15 tahun? ………………………………………………………..

Orang yang pesimis pasti mengubur impian masa kecilnya ketika telah beranjak dewasa dan menghadapi realita bahwa mengejar cita-cita tidak semudah yang dikira. Untuk mereka yang optimis dan tidak kenal kata menyerah pasti akan selalu mengisi jiwa dengan motivasi-motivasi baru agar terus bersemangat mengejar impian.
Tidak ada impian yang salah, ngawur, terlalu rendah atau terlalu tinggi. Kesalahan terbesar adalah jika memutuskan berhenti mengejar impian. Mimpi saya waktu jaman SMA sih simpel saja: kalo gede pengen jadi musisi yang giat membuat aransemen di studio musik pribadi berfasilitas super lengkap pada malam hari dan pagi harinya mencari uang untuk membayar cicilan rumah studio itu dengan berprofesi menjadi dosen di fakultas ekonomi. Ketika lulus sarjana S1 saya tegaskan lagi impian tersebut: dosen jurusan pemasaran. Nah, lulus S2 makin mantap saja cita-cita saya: dosen dengan minat penelitian pada corporate level strategy, corporate branding, SCM dan logistic system, e-channel management.
Kalau melihat realita hidup sekarang, kok saya malah sign kontrak dengan perusahaan farmasi. Beranjak dari rasa frustasi sejak gagal tes med-check untuk posisi sebagai credit analyst di Banknya Beni (nyesek euy..gila tinggal selangkah), saya sempat putus asa lalu gelap mata melamar kesemua perusahaan yang buka lowongan sampai akhirnya dipanggil oleh si market leader farmasi ini.
Posisi ditawarkan sebagai MDP, kompensasi yang diberikan cukuplah untuk nabung beli sebiji Fender Telecaster, dan perusahaannya berprospek cerah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tapi jujur, saya sangat sangaaat tidak nyaman dengan keputusan yang telah saya buat. Rasanya mual dan eneg kalo membayangkan harus bekerja di perusahaan distribusi farmasi dimana sindikasi perdagangan obat di indonesia membuat harga obat-obatan jadi sangat mahal dan susah diakses pasien ekonomi lemah (menurut menteri kesehatan Bu. Siti Fadilah Supari). Sementara perusahaan ini memonopoli distribusi puluhan produsen obat asing a.l. G*ax*, P**z*r, *v*nt*s, dst dst. Harga obat di Indonesia tidak rasional…besok saya akan kekantor untuk resign.
Saya memilih untuk menganggur lagi, mengirim surat lamaran lagi dan terus mengejar cita-cita jadi dosen, walau nantinya mungkin cuma diterima di universitas biasa-biasa saja yang tidak  mentereng tapi saya yakin saya pasti menemukan lentera jiwa saya disana. Kebahagiaan menebar pengetahuan, membagi idealisme dan pandangan hidup, berdiskusi dengan mereka yang punya minat studi yang sama, berkehendak sesuai kata hati pasti akan lebih bermakna untuk kelanjutan hidup saya yang sejauh ini rasanya masih mengikuti pola yang dibuat orang lain..

ah sudahlah, serius amat nulisnya..

Tags: life