Adika fajar isn’t the most popular kid in school. Or the brightest. Or the most athletic.

Gitar Fender adalah keajaiban dunia urutan ketiga setelah software Microsoft dan junkfood mcDonald

July 3, 2008 · 1 Comment

Bicara mengenai gitar, gue jatuh cinta dan mulai coba mengenal instrumen ini sejak kelas dua es-em-pe. Pertamanya dari gitar kopong bermerek yamaha 350, gitar sederhana yang beli di gramedia. Nyetel gitar ini susah banget untuk nyari tone yang tepat. Dapat setelan yang bagus, eh didiamin semalam udah geser nada lagi. Sekarang nasib gitar itu sekarang ada di rumah sepupu. Teronggok begitu saja.

Gitar kedua yang dibeli, waktu jaman sma kelas 2. Tidak bermerek, beli disebuah toko kecil di jalan Praban surabaya. Desainnya unik. Bodynya tebel. Fretnya konfigurasi 24. Mantaplah. Ditebus dengan harga 700-ribu pada waktu itu. Mahal sial, tapi sulit juga kalau sudah jatuh hati. Gitar seukuran stratocoustic (resonance box-nya), build quality yang kokoh, mid-nya dapet banget. Renyah gitu. Dulu doyan pake senar GHS. Pertama ukuran 0.09, trus gara-gara sering nge-bending trus putus mulu, maka ukuran senar naik lagi ke 0.10. terus naik pake 0.11. sempat pake 0.12 tapi ngos-ngosan kalo ngejar bending dan nahan sustain. Akhirnya awet di 0.11, sampe sekarang. Gitar akustik ini punya bentuk bentuk yang sangat praktis. Karena bentuknya, itu gitar bisa ditaruh posisi berdiri tanpa menggunakan sandaran lagi. Namun sayang, sekarang fret-fretnya dah mulai aus saking kebanyakan dipake.

Gitar ketiga adalah custom made Fender Telecaster J5 model. Konfigurasi kelistrikan didesain sendiri. Luthier lokal Semarang. Resep utama: no tone control. Paten di posisi 10. Bising, produsen desibel tinggi bikin pekak telinga. Hahaha. 5 way switch control. Humbucker duncan designed di area bridge dan single coil comotan dari telecaster di area neck.

Diatas pick up neck ada toggle switch two pick up on-off/mute-by pass. Pengennya sih maen kayak tom morello RATM. Susah juga. Sampai sekarang belum bisa rata. Di balik switch itu ada alur kabel yang menuju kontrol utama. Sebelum menuju ke pusat, dipasang resistor kecil untuk mengurangi overtone. Tapi pengaruhnya tidak terlalu signifikan ternyata, inovasi yang gagal itu masih terpasang belum sempat dibongkar lagi. Toogle 5 way switch adalah kombinasi dari dua pick up yang ada. Sehingga ada lima konfigurasi yang dapat dipilih.

Body yang dipilih adalah telecaster. Didapat dari telecaster bekas yang neck-nya udah rusak. Dikanibal. Kemudian body di renovasi, setelah rampung, finishing dengan cat warna merah marun tua, sisi samping diberi ornamen lis warna putih ala gitar retro. Neck gitar baru fresh, terbuat dari kayu alder dan bahan fretboard dari mahoni. Picking area dilandasi tiga lapis plastik. Mantap.

Senar yang dulunya paten GHS sekarang terpaksa ganti ke D’addario dengan alasan GHS sudah sulit dicari barangnya. Langka. Gak semua toko jual. Dengan alasan gak ingin ribet maka pindah ke D’addario, namun dengan ukuran yang sama di 0.11. Sebenarnya lebih prefer GHS untuk senar, sustain lebih panjang dan fingering lebih nyaman. Senar GHS empuk, gak mudah karatan pula. D’addario mudah sekali berkarat.

Okeh, sekian biodata gitar-gitar murah gue. Semoga tahun depan duit tabungan sudah mencukupi untuk nebus the REAL fender stratocaster. Amin.

Categories: Uncategorized



1 response so far ↓

Leave a Comment