Review film
The Bucket List (Jack Nicholson, Morgan Freeman, 2007)
Highly
recommended!
Film ini bercerita tentang persahabatan antara dua tokoh yang sebelumnya
tidak mengenal satu sama lain sampai keduanya harus berbagi kamar di sebuah
rumah sakit. Chamber, yang diperankan oleh Morgan Freeman adalah seorang montir mobil yang memiliki kehidupan keluarga yang harmonis, istri yang setia dan anak-anak yang sangat memperhatikan orang tuanya. Edward, teman sekamarnya, diperankan oleh Jack Nicholson. Dia adalah pemilik dari rumah sakit itu , yang lucunya harus dirawat bersama pasien lain (Chamber) karena rumah sakit miliknya punya kebijakan tidak menyediakan kamar single bed bagi pasien dengan alasan mengejar efisiensi. Meskipun kaya raya dan menjadi pemilik puluhan perusahaan dia tidak memiliki kehidupan lain selain bisnis, tidak berkeluarga dan tidak pernah sekalipun dijenguk oleh keluarganya ketika sakit. Karakternya digambarkan memiliki determinasi tinggi, arogan dan eksentrik. Jauh berbeda dengan Chamber yang memiliki pembawaan tenang, religius dan bijaksana. Latar belakang kehidupan dua karakterĀ tersebut sangat
kontras. Hanya ada satu kesamaan dari keduanya, dokter telah memvonis bahwa sisa usia mereka berdua tidak akan lebih dari satu tahun dikarenakan kanker dan tumor otak yang menyerang kedua pria lanjut usia itu.
Cerita berawal ketika Chamber tidak sengaja membuang secarik kertas di lantai kamar perawatan mereka. Kertas itu kemudian diambil oleh Edward yang kemudian penasaran apa maksud dari Chamber menulis daftar tersebut (bucket list). Dijelaskan oleh Chamber bahwa daftar ituĀ adalah daftar keinginannya sebelum mati, antara lain ngebut pakai ford mustang GT, menolong orang tak dikenal untuk bertemu tuhan, tertawa sepuas-puasnya, menyaksikan suatu keajaiban, safari ke himalaya, india, mesir, afrika, china dan sederet keinginan lain yang menunggu untuk diwujudkan. Edward yang sangat antusias dengan daftar keinginan Chamber (kemudian mereka menamakannya the bucket list) berinisiatif mengajak sahabat barunya itu untuk mewujudkan keinginan-keinginan yang belum terpenuhi dalam hidup. Edward juga berinisiatif menambahkan beberapa keinginan dalam daftar tersebut, antara lain mencoba skydiving dan mencium cewek tercantik didunia.
Kedua pria yang memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda ini kemudian terlibat dalam petualangan-petualangan seru dan unik, antusiasme keduanya dalam menikmati setiap detik dari sisa usia sangat terlihat nyata dan menggugah. Kebut-kebutan disirkuit, safari dan berkemah di afrika, apapun dalam daftar itu dapat diwujudkan oleh Edward karena kekayaannya seakan tidak pernah habis. Konflik dimulai ketika Chamber bekerjasama dengan asisten Edward untuk membawanya (Edward) kerumah anak perempuan Edward yang sudah dilupakan bertahun-tahun. Edward tersinggung karena merasa Chamber mulai terlibat terlalu dalam dalam kehidupan pribadinya. Petualangan dua sahabat itu berakhir ketika Edward menyobek bucket list dengan penuh amarah.
Kedua lelaki tua itu kembali pada ritme kehidupan mereka semula. Edward kembali ke rumahnya yang luas, menghabiskan waktu bersama gadis-gadis muda, memimpin rapat perusahaan, kembali ke kehidupannya yang prestisius, namun hampa. Chamber kembali ketengah-tengah keluarganya, berkumpul bersama menikmati kehangatan makan malam bersama istri, anak dan cucu yang sangat menyayangi. Hingga pada suatu saat, Edward menerima kabar dari istri Chamber bahwa sahabatnya berpetualang saat ini terkapar tak berdaya dan harus menjalani operasi pengangkatan tumor otak.
Ketika dijenguk Edward, Chamber yang telah siuman memaksa sahabatnya membaca secarik kertas. Kertas tersebut berisi informasi mengenai biji kopi luwak minuman favorit kebanggaan Edward. Edward si penggemar kopi luwak terperangah saat mengetahui bahwa kopi kebanggaannya ternyata berasal dari kotoran binatang. Keduanya spontan tertawa terbahak-bahak. Momen yang mengesankan, ancaman kematian ternyata tidak menghentikan selera humor. Tidak lama setelah itu, Chamber meninggal, operasi yang dijalankan tidak sanggup menyelamatkan nyawanya.
Pada saat sahabatnya menjalani operasi, Edward memenuhi keinginan Chamber yang ingin dia (Edward) bertemu kembali dengan anaknya. Edward memberanikan diri untuk datang kerumah anak perempuannya yang bertahun tahun diacuhkan. Hal yang ditakutkan Edward bahwa anaknya akan menolak kehadirannya ternyata tidak terbukti. Dia diterima dengan penuh kelapangan hati oleh sang anak.
Tidak beberapa lama setelah meninggalnya Chamber, sang sahabat kemudian ikut menyusul ke alam baka. Keduanya memilih untuk diperabukan sesuai dengan kesepakatan yang mereka buat di puncak piramid mesir. Abu mereka ditempatkan dalam kaleng kopi luwak. Abu jenazah Chamber terlebih dahulu dikirim ke puncak tertinggi Himalaya, menyusul kemudian abu jenazah Edward yang meninggal kemudian. Keduanya akhirnya dapat sampai ke puncak tertinggi himalaya, keinginan terakhir dalam bucket list sudah dipenuhi. Bucket list yang berhasil diselesaikan turut disimpan bersama kaleng abu mereka. Dramatis sekali bukan? Masih banyak sekali hal-hal menarik dalam film ini yang belum saya ceritakan.
Cerita yang menyentuh, tonton saja sendiri kalo gak percaya. Saya aja terharu, apa lagi kalian pria wanita sensitif dan mudah tersentuh hatinya. Segera kunjungi lapak DVD bajakan terdekat.
(If you pursue happiness, it will elude you. But if you focus on your family, your friends, the needs of others, your work and doing the very best you can, happiness will find you)
1 response so far ↓
WiNa // Jul 2nd 2008 at 2:00 am
aku kok jadi inget lagunya John Meyer “say what you need to say”. emang ost-nya kan!!!
ok aku bakal cari dvd di glodok
Leave a Comment