Saya sudah lama tidak memberi hormat pada bendera merah putih,
…tidak hafal teks lagu garuda pancasila,
…tidak tahu Undang-undang dasar 1945 ada berapa pasal,
…tidak paham kenapa pancasila harus lima ayat,
….jengkel saat ketum PSSI yang kepala batu tidak mau turun jabatan.
…sakit hati saat Malingsia mengklaim kebudayaan Indonesia.
Nasionalis-kah saya?
……….hmmm…………
Bahasan tentang nasionalisme muncul karena pagi ini tidur tambahan saya harus dibatalkan oleh suara Pak guru SD yang mengajak siswanya olahraga, suara cemprengnya menggelitik telinga dan akhirnya jadi susah untuk tidur lagi.
Tiap pagi sekolah dasar didepan rumah selalu mengadakan acara apel pagi untuk siswa-siswanya, untuk upacara bendera ataupun sekedar olah raga pagi. Hari ini Pak guru berbicara dengan antusias dengan harapan agar siswa ciliknya mampu memaknai dan mencerna harapan-harapan yang diinginkan. Dari kata-kata yang dilontarkan selama pidato, pak guru kelihatan serius sekali dengan upayanya mencerdaskan bangsa dan mengajarkan pendidikan bela negara. Pak guru mengajak siswanya membaca teks pancasila, mereka juga bersama-sama menyanyikan lagu nasional, pake TOA dengan ampli tentunya. Ceramah pak guru bagus juga, pidatonya bertema kebangkitan nasional.
Tapi, dia sama sekali tidak menyinggung kenyataan bahwa negara ini sebenarnya mencoba bangkit dari posisi jongkok, bukan dari duduk. Yang dibahas cuma semangat para pendahulu kita, dengan harapan murid terpancing untuk memiliki ketegasan yang sama. Tidak disinggung sama sekali mengenai desain kehidupan berbangsa dan bernegara yang masih perlu banyak pembenahan. Prasyarat untuk berakselerasi saja masih belum tuntas.
Entah sejak kapan persisnya kekeliruan ini dimulai, tapi yang pasti kegagalan para pendahulu bangsa juga tidak pernah disampaikan oleh Bu guru saat saya masih kecil. Dulu bu guru saya selalu bicara yang bagus-bagus saja, tidak pernah membuka celah kritis untuk sebuah argumentasi orisinil yang keluar dari pakem. Hasilnya, buku paket pendidikan moral pancasila yang dulu dipelajari dikelas seolah kontraproduktif jika melihat kenyataan saat ini. Kesalahan ini terus menerus diulangi lagi oleh guru-guru lain sampai detik ini, Capee deh..
Nasionalisme yang ideal tidak relevan lagi, sedikit pragmatis memang, tapi itulah realita.
Kecacatan dari bangsa adalah kenyataan yang harus diterima dan dimaknai sebagai titik awal dari perubahan. Seharusnya sekolah-sekolah lebih banyak memberikan porsi untuk mempelajari kesalahan para pengurus negara terdahulu di sesi pendidikan kewarganegaraan dan membuka kesempatan untuk berdiskusi terbuka dengan para siswanya demi sebuah upaya perubahan dan perbaikan.
Orang tidak bisa serta merta mencintai bangsanya jika tidak ada insentif yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Diskusi bebas tersebut diharapkan mengarah pada bahasan mengenai insentif yang sesuai dengan masing-masing siswa. Nasionalisme harus dibungkus dengan beragam insentif yang bukan sekedar wacana normatif. Suatu saat mereka akan mencintai bangsa dan membela negara, mungkin malah jadi militan karena dibalik itu ada kepentingan pribadi yang harus diperjuangkan.
..Wahai anak SD depan rumah, jadilah seorang Nasionalis Kapitalis Pragmatis seperti saya..
(kengawuran ini ditulis setelah membaca esai mengenai teori Locke dan Smith atas kapitalisme dan kepentingan individu)
1 response so far ↓
camel // Jul 27th 2008 at 5:51 pm
setuju2! itulah sebabnya saat masih di SOS2 sering banget debat sm guru Tata Negara, sapa tuh namanya? si juragan angkot tuh? lali aku jenenge, gak tau akur aku sm dia, selalu eyel2an hehehe
kemudian satu pertanyaan nih, apa yg bisa kita lakukan untuk membuat perubahan dengan keadaan kita n negara kita saat ini?
saudara ndok, bisa tolong dijawab? siapa tahu saya menemukan jawaban pertanyaan saya ini pada diri anda
Leave a Comment