Adika fajar isn’t the most popular kid in school. Or the brightest. Or the most athletic.

Pernah menikmati kuliah bermutu dengan hanya membayar Rp 650.000 rupiah tiap semester?

March 12, 2008 · 1 Comment

Saya menikmati kemewahan itu di UNAIR, kampus negeri yang (konon katanya) terpandang di kawasan Indonesia timur. Sekarang sih juga lagi menikmati kuliah bermutu (…namun dengan biaya yang bisa untuk menyekolahkan 500 anak putus sekolah..)

Saya dulu masuk Unair melalui sebuah sistem yang disebut SPMB. Sistem yang saat ini menjadi topik panas dalam perbincangan mengenai sistem pendidikan di Indonesia. Sistem penerimaan ini ditentang oleh beberapa universitas negeri, termasuk juga Unair dan ITS. Katanya sih masalahnya sepele, urusan duit dari pusat yang nggak jelas.

Uang, inti dari segala kerumitan ini.

Dengar di radio tadi pagi bahwa sebenarnya biaya yang dikeluarkan untuk memproses satu calon sebesar Rp.150 ribu (IPA/IPS) sampai Rp. 170 ribu (jika mengambil pilihan IPC). Itu masih biaya pokok belum lain-lain. Pihak pihak yang menolak sistim SPMB mengatakan bahwa tidak ada transparansi mengenai uang yang dikumpulkandari para calon mahasiswa. (ah, kayak nggak tahu aja dari dulu kan juga seperti itu. aneh kok baru teriak-teriak sekarang)

Keputusan itu akan menghasilkan kerumitan baru bagi para calon mahasiswa. Dengan berlakunya dua sistem, SPMB dan UMPTN (sistim ini dikelola swadaya oleh kampus yang menolak sistim SPMB) pasti sedikit banyak akan berdampak pada biaya dan waktu yang dikeluarkan oleh calon mahasiswa. Di negara yang tercinta ini mau daftar sekolah aja sudah keluar ongkos macam-macam. Kalo nggak salah dulu tahun 2002 saya beli formulir SPMB seharga Rp. 200 ribu, entah sekarang berapa biaya yang harus dikeluarkan calon mahasiswa.

Apakah dua sistem ini akan benar-benar menambah kesulitan bagi calon mahasiswa? entah. Coba telaah skenario ini: si Mumun anak desa yang pintar dan cerdas, nilai EBTANAS (nilai akhir) nyaris sempurna dan menjadi salah satu peraih nilai tertinggi di level Provinsi. Si Mumun ingin mencoba peruntungan dengan mendaftar di fakultas psikologi UI. Si mumun tidak begitu saja menggantungkan nasib pada satu pilihan, dia juga butuh cadangan. Pilihan kedua jatuh pada fakultas psikologi UNAIR yang mengadakan seleksi swadaya bernama UMPTN. Si mumun harus beli formulir SPMB jika ingin ke UI, dan dia juga harus punya formulir UMPTN jika ingin ke Unair.

Duit dari mana Mun? daripada uang hilang jika gagal masuk SPMB dan UMPTN akhirnya bapak si Mumun menyarankan anaknya masuk kursus menjahit di dekat rumah yang jauh
lebih murah dari segi biaya. Akh..

Categories: Uncategorized



1 response so far ↓

  •   camel // Jul 27th 2008 at 6:17 pm

    menyoal si mumun, desanya dimana tuh? kl cm ongkos beli formulir masih ringan lah, lha ongkos transportasi ke jakarta or surabaya PP? akomodasi? konsumsi?
    setdah indonesia ini!

Leave a Comment