Petugas cleaning service, posisi mulia yang tidak semua orang ingin. Jika boleh memilih pasti kita akan menghindari pekerjaan kotor seperti menggosok toilet, mengepel, membersihkan kotoran yang menempel di lantai WC atau sekedar membersihkan sisa makanan yang berserakan. Kehadirannya di kantor (atau kampus) kadang dipandang sebelah mata. Sering diantara kita masuk WC dan lupa menyapa teman–teman petugas kebersihan.
Di kampus saya, beban kerja mereka sangat berat. Kehidupan kampus yang dimulai jam enam pagi dan baru berakhir jam 10 malam menjadikan beban pekerjaan mereka menjadi lebih berat. Tidak jarang saya membandingkan beban kerja mereka dengan sesama rekan petugas kebersihan yang berada di kantor lain atau mal yang tentunya dengan problem kebersihan yang tidak seberat di kampus saya.
Setiap orang punya cara sendiri untuk merubah nasib. Saya salut dengan mereka para petugas kebersihan di kampus yang kadang bekerja hingga jam sepuluh malam. Mereka digaji perjam, tiap harinya diupah sekitar Rp.22.000 dan rata-rata mereka bekerja sepuluh jam sehari. Tugas yang melelahkan, tapi mereka selalu bisa tersenyum saat ada orang melintas di lantai yang barusan mereka pel. Ikhlas hasil kerjanya dikotori lagi oleh kaki basah orang-orang yang melangkah dari tempat wudhu ke musholla.
Ada seorang petugas kebersihan di kampus yang tidak disukai oleh teman saya karena dianggap selalu menggerutu. Perilaku dia yang menyebalkan mungkin disebabkan oleh pekerjaan?
Entahlah. Awalnya saya juga tidak menyukai sikap dia yang awalnya saya anggap sedikit kurang ajar. Saya mulai mencoba menyapa dia sama seperti menyapa teman-teman yang lain. Lama kelamaan orang ini mulai bersikap baik dan mulai menyapa ramah terlebih dulu jika saya melintas didepannya.
Beberapa hari yang lalu saya berbincang-bincang dengan si petugas kebersihan itu. Hari itu dia cerita kepada saya mengenai pekerjaannya. Dia dituntut oleh atasan untuk segera
membersihkan ruangan pada akhir perkuliahan, itu sudah masuk dalam prosedur kerja yang harus dipatuhi. Seringkali dia merasa kesal saat para mahasiswa tidak segera keluar dari kelas ketika pelajaran selesai dan bahkan meninggalkan begitu saja barang-barang di dalam kelas. Beberapa kejadian barang hilang yang akhir-akhir ini sering terjadi di kampus membutuhkan kambing hitam yang tepat. Pihak yang paling lemah dan selalu disalahkan jika ada kejadian barang hilang adalah para petugas kebersihan. Setelah tuntas mendengarkan ceritanya saya berkesimpulan bahwa si petugas cleaning service itu ternyata tidak jauh berbeda dengan saya yang juga ingin dihargai dan diperlakukan manusiawi.
Banyak hal yang bisa kita lakukan menghargai untuk mereka, mulai dengan tidak membuang bungkus makanan disembarang tempat, selalu membuang sampah ke tempat sampah yang disediakan, bersegera keluar kelas setelah pelajaran selesai agar mereka bisa langsung membersihkan, menyapa mereka jika bertemu pandang, memeriksa kebersihan kloset sehabis kita pakai, membersihkan sepatu ke keset sebelum melintas di lantai yang barusan mereka pel, dan sebagainya. Banyak hal-hal kecil yang bisa kita lakukan untuk menghargai mereka.
2 responses so far ↓
Yodyan // Mar 12th 2008 at 6:12 pm
“Mereka digaji perjam, tiap jamnya diupah sekitar Rp.22.000 dan rata-rata mereka bekerja sepuluh jam sehari.”
Rp 22.000 X 10 =
Rp 220.000/Hari
Rp 220.000 X 20 =
Rp 4.400.000/Bulan
Wooeee….
Lumayan Tuuh
Kenalanku ada yang kerja diBank gajinya ga nyampe Setengahnya..
Bener tuh NDok?
Kalah Deh Gaji Sarjana…
adika // Mar 14th 2008 at 7:50 am
mataku udah kriyep-kriyep pas nulis. yang benar 22.000 per hari.
sori bosky. hehehe.
ini sekalian ralat untuk tulisan diatas
Leave a Comment