Adika fajar isn’t the most popular kid in school. Or the brightest. Or the most athletic.

Bahas cinta yuk..!?!!

March 25, 2008 · 2 Comments

Ada satu puisi yang sangat saya suka, bahasanya halus banget, pilihan katanya
sederhana tapi pesan implisitnya begitu dalam seakan mencoba menguji rasionalitas kita. Dikarang oleh Pak Sapardi Djoko Damono. Berikut puisinya:

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak
sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu”

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan isyarat yang tak
sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

Keserhanaan dalam bercinta..

Sekarang udah susah membayangkan cinta yang sederhana. Urusan cinta nggak bisa dengan metode seperti dulu lagi yang dengan bodohnya pernah datang kerumah cewek-nembak-jadian-trus-jemput-tiap-pagi-kalo-udah-bosen-tinggalin. Sekarang sih lebih rasional.. tapi kok ya jadi kebablasan gini, semakin pake otak maka variabel yang harus dicek dan ricek jadi semakin banyak. Sialan.

Ibaratnya pencarian cinta sejati itu dianalogikan dengan penelitian empiris aja deh. Dulu waktu SMA kita mungkin cuma punya pertimbangan dua variabel saja, misal “X1: seksi” dan “X2: semok”. Tentunya dengan variabel yang sedikit maka berdampak pada probabilitas kesalahan menjadi sangat besar, tidak heran usia SMA sering banget gonta ganti pasangan karena indikator pengukurannya masih sangat sederhana. Beranjak mahasiswa kita kemudian mengenali berbagai macam indikator tambahan berupa tuntutan-tuntutan baru terkait dengan konsep pasangan ideal, indikator baru itu selanjutnya digunakan untuk melengkapi model yang lama. Sebut saja permodelan kita: model regresi untuk pencarian cinta dan hubungan jangka panjang. (Oke oke sebut saja model regresi ini dengan model Adika. Ya ya..sayalah orang bodoh yang mengusulkan model ini.)

Pengalaman dan wawasan serta pembelajaran hidup menjadikan model evaluatif untuk pencarian cinta berevolusi menjadi semakin komprehensif. Suatu contoh, ketika sudah masuk perguruan tinggi maka model regresi dari kasus keputusan seorang cewek milih cowok mungkin ditambah dengan variabel kemapanan (huh..) yang melengkapi variabel dasar seperti “ketampanan” dan “keren plus gaul”yang sudah digunakan sejak jaman SMA.

Balik lagi ke perbincangan mengenai puisi favorit saya. Apa sih kata yang tak sempat diucapkan si kayu dalam puisi itu? apakah dia memang dituntut oleh keadaan sehingga tidak sempat mengucapkan sepatah kata? ataukah memang kata itu sengaja tidak ingin diucapkan si kayu bahkan ketika dia lantak menjadi abu? Kalau awan nggak ngomong apa-apa sih saya tahu kenapa. Awan tidak perlu memberi isyarat karena memang sudah tiba waktunya dihapus oleh hujan(??) Hoho.

Semua sudah diatur dalam garis nasib. Berpikir sederhana dan nggak usah nuntut terlalu banyak. Kadang hidup menjadi indah jika tidak terlalu banyak tuntutan dan pertimbangan.

Nah, dengan pemahaman baru itu maka saya sekarang mencoba meredefinisi dan kembali ke permodelan yang lebih minimalis, tentunya dengan nilai signifikansi yang jauh lebih baik. Sekarang lagi dalam tahap pemilihan variabel penting yang akan masuk ke model yang telah direkonstruksi. Prosesnya menyisihkan variabel yang nggak terlalu signifikan. Faktor “X1: kesetiaan” dan “X2: agama” masih menjadi yang utama, “faktor X121: tidak doyan pete” udah termasuk yang dihilangkan..hmm.. apalagi ya faktor yang akan dihapus dari model?

umm..maafkan saya pak Sapardi, saya dengan entengnya membuat tafsir konyol atas puisi indah karangan anda.

*buat yang baca, jangan serius serius amat bacanya. ini cuma hasil pikiran nglantur ketika jam 1 pagi masih belum bisa tidur

Categories: Uncategorized



2 responses so far ↓

  •   Luthfi // May 26th 2008 at 7:06 am

    heh bos, wis lulus S2 yo!
    gak dolan nang Sby?
    moco tulisanmu maleh pengen nulis maneh! thanks, It’s awesome. Well done, Pal!

  •   camel // Jul 27th 2008 at 6:01 pm

    hahaha tau nggak ndok? puisi itu lah yang bisa aku kasih ke mantan2 dl, lumayan jadi salah satu jurus jitu lho…
    buat mantan2 yang baca komenku ini. jangan kuatir, wktu itu aku gak ngegombal kok, emang gt yang aku rasain saat itu.
    tp banyak juga yg karya sendiri lho, soale aku emang tipe cowok yg suka berpuisi (dulunya sih).
    skrg? gak blas!

Leave a Comment