Entries from March 2008
Pertanyaan tersebut pernah muncul sebagai pertanyaan bonus dalam ujian manajemen investasi. Saat itu saya sukses tidak menjawab. Baru setelah ujian dan googling sebentar, saya terkesima dengan pemaparan tentang teori tersebut.
Desain mekanisme. Teori tersebut menyatakan bahwa kebebasan pasar (definisi Adam Smith) tidak terjadi begitu saja tetapi harus dibuat institusinya, harus didesain mekanismenya termasuk juga aturan mengenai insentif. Teori Desain Mekanisme menekankan pentingnya insentif serta mengingatkan bahwa imbauan moral untuk berbuat jujur dalam hubungan akan sulit berjalan. Hari ini saya mencoba mengangkat topik tersebut dalam masalah kehidupan sehari-hari: Kehidupan cinta.
Bayangkan, bahwa wanita dan pria adalah dua institusi yang berbeda dan mau tak mau nantinya akan dipersatukan dalam skenario merger (baca: pernikahan). Pernikahan itu lebih rapuh dari merger/akuisisi dua perusahaan, banyak pernikahan yang berakhir dengan alasan bahwa pasangan dia selama ini bukan yang sebenarnya dia inginkan. Tidak pernah ada perusahaan yang merger lalu memutuskan untuk berpisah karena alasan tidak cocok, pernah ada kasus?
Selama ini selalu dikatakan bahwa jodoh adalah orang yang harus menerima kita apa adanya. Pertanyaannya seberapa baik orang mampu jujur ketika tidak atau belum mampu untuk menilai dirinya sendiri, atau si penilai sendiri tidak tahu poin-poin mana yang sangat krusial untuk dievaluasi. Ketika dihadapkan pada persoalan ini tentunya banyak sekali yang bisa ditilik dari cara perusahaan menyiapkan penggabungan. Mereka menilai 360 derajat, mengevaluasi kelayakan, membicarakan insentif-insentif, mendesain kebijakan-kebijakan pengelolaan dan sistem koordinasi, yang kesemuanya mendorong tiap pihak secara terbuka mengatakan apa yang diinginkan.
Mekanisme keterbukaan dan membicarakan insentif secara gamblang. Sebuah mekanisme yang baik harus menjamin bahwa semua pihak (wanita atau pria) memang punya insentif rasional untuk jujur dalam menyatakan atau berperilaku yang sebenarnya. Untuk kasus-kasus di mana informasi itu bersifat pribadi, misalnya penilaian terhadap seorang pria yang hobi makan pakai tangan di mata wanita, bentuk-bentuk pasar (perjodohan) yang standar tidak mungkin menjamin adanya efisiensi (baca: cepat dapat jodoh).
Makan pakai tangan (ditambah lagi memainkan nasi ditangan layaknya bikin perkedel) seringkali dianggap tidak sopan. ada yang memandang hal itu biasa saja, tapi mungkin ada wanita yang suka lakinya makan pakai tangan dan mulut
belepotan, disisi lain tidak menutup kemungkinan ada juga yang sangat benci sehingga memberi kesan negatif pada pria dengan perilaku tersebut. Ini sebuah
tantangan, sebuah efisiensi dalam pasar perjodohan adalah ketika pria yang doyan makan pake tangan tidak membutuhkan waktu yang terlampau lama untuk bertemu dengan wanita yang napsu kalo liat seorang pria makan pake tangan trus mulutnya belepotan. Bagaimana mekanismenya? Entah, kengawuran saya tidak sampai kesitu.
Btw, ini ada bonus kutipan menarik yang saya dapat dari blog diskusi ekonomi.com:
Daripada bermimpi, lebih baik kaum muda Indonesia bekerja dengan sebaik-baiknya, berpikir sedikit lebih jernih dan tertata, terbuka terhadap perubahan, berani berbeda pendapat, dan menyebar dalam berbagai pandangan. Demokrasi yang sehat tidak menawarkan pandangan yang seragam dan final, tetapi sebuah proses yang tidak pernah berhenti, dan membuka peluang untuk koreksi kesalahan tanpa lewat paksaan dan kekerasan.
Tags: Uncategorized
Ada satu puisi yang sangat saya suka, bahasanya halus banget, pilihan katanya
sederhana tapi pesan implisitnya begitu dalam seakan mencoba menguji rasionalitas kita. Dikarang oleh Pak Sapardi Djoko Damono. Berikut puisinya:
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak
sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu”
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan isyarat yang tak
sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
Keserhanaan dalam bercinta..
Sekarang udah susah membayangkan cinta yang sederhana. Urusan cinta nggak bisa dengan metode seperti dulu lagi yang dengan bodohnya pernah datang kerumah cewek-nembak-jadian-trus-jemput-tiap-pagi-kalo-udah-bosen-tinggalin. Sekarang sih lebih rasional.. tapi kok ya jadi kebablasan gini, semakin pake otak maka variabel yang harus dicek dan ricek jadi semakin banyak. Sialan.
Ibaratnya pencarian cinta sejati itu dianalogikan dengan penelitian empiris aja deh. Dulu waktu SMA kita mungkin cuma punya pertimbangan dua variabel saja, misal “X1: seksi” dan “X2: semok”. Tentunya dengan variabel yang sedikit maka berdampak pada probabilitas kesalahan menjadi sangat besar, tidak heran usia SMA sering banget gonta ganti pasangan karena indikator pengukurannya masih sangat sederhana. Beranjak mahasiswa kita kemudian mengenali berbagai macam indikator tambahan berupa tuntutan-tuntutan baru terkait dengan konsep pasangan ideal, indikator baru itu selanjutnya digunakan untuk melengkapi model yang lama. Sebut saja permodelan kita: model regresi untuk pencarian cinta dan hubungan jangka panjang. (Oke oke sebut saja model regresi ini dengan model Adika. Ya ya..sayalah orang bodoh yang mengusulkan model ini.)
Pengalaman dan wawasan serta pembelajaran hidup menjadikan model evaluatif untuk pencarian cinta berevolusi menjadi semakin komprehensif. Suatu contoh, ketika sudah masuk perguruan tinggi maka model regresi dari kasus keputusan seorang cewek milih cowok mungkin ditambah dengan variabel kemapanan (huh..) yang melengkapi variabel dasar seperti “ketampanan” dan “keren plus gaul”yang sudah digunakan sejak jaman SMA.
Balik lagi ke perbincangan mengenai puisi favorit saya. Apa sih kata yang tak sempat diucapkan si kayu dalam puisi itu? apakah dia memang dituntut oleh keadaan sehingga tidak sempat mengucapkan sepatah kata? ataukah memang kata itu sengaja tidak ingin diucapkan si kayu bahkan ketika dia lantak menjadi abu? Kalau awan nggak ngomong apa-apa sih saya tahu kenapa. Awan tidak perlu memberi isyarat karena memang sudah tiba waktunya dihapus oleh hujan(??) Hoho.
Semua sudah diatur dalam garis nasib. Berpikir sederhana dan nggak usah nuntut terlalu banyak. Kadang hidup menjadi indah jika tidak terlalu banyak tuntutan dan pertimbangan.
Nah, dengan pemahaman baru itu maka saya sekarang mencoba meredefinisi dan kembali ke permodelan yang lebih minimalis, tentunya dengan nilai signifikansi yang jauh lebih baik. Sekarang lagi dalam tahap pemilihan variabel penting yang akan masuk ke model yang telah direkonstruksi. Prosesnya menyisihkan variabel yang nggak terlalu signifikan. Faktor “X1: kesetiaan” dan “X2: agama” masih menjadi yang utama, “faktor X121: tidak doyan pete” udah termasuk yang dihilangkan..hmm.. apalagi ya faktor yang akan dihapus dari model?
umm..maafkan saya pak Sapardi, saya dengan entengnya membuat tafsir konyol atas puisi indah karangan anda.
*buat yang baca, jangan serius serius amat bacanya. ini cuma hasil pikiran nglantur ketika jam 1 pagi masih belum bisa tidur
Tags: Uncategorized
dear all, ada beberapa hal yang awalnya sungkan untuk ditulis diblog ini karena saya anggap terlalu sensitif. Akan tetapi karena ada saran (sekaligus pendorong) untuk menjelaskan duduk permasalahan secara lengkap, maka posting ini saya susun ulang secara lebih mendetail dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada individu dan perusahaan yang disebut.
Beberapa hari yang lalu saya menerima panggilan kerja dari Mitsubishi Corporation untuk menempati posisi staf di divisi machinery. Dalam email, disebutkan bahwa klien yang akan saya kelola adalah Pertamina dalam proyek join co-op proyek LNG antara Mitsubishi-Medco-dan Pertamina.
Ditawarkan posisi sebagai staf permanen dengan basic salary ^ juta yang bagi saya sangat fantastis untuk seorang bocah ingusan baru lulus yang nggak tahu apa-apa seperti saya. Melalui balasan email, saya menyanggupi jadwal tes pada hari selasa lalu. Tes yang dilakukan meliputi tes translasi dokumen (english to bahasa), tes kemampuan hitung, tes psikologi+esay. Alhamdulillah semua prosedur itu bisa saya lalui. Tes demi tes udah dilewati, tinggal tahap akhir yaitu interview dengan si bos dari Jepang, eh saya dengan mantapnya milih pulang.
Melengos kabur begitu saja. Alasannya simpel, saya tidak suka dengan gestur, sikap dan cara staf lokal berinteraksi dengan kami, para peserta tes yang berjumlah 7 orang. Kesannya meremehkan, dingin dan kaku. Sebelumnya tes sempat molor dari awalnya dijanjikan mulai jam 08.30 ternyata dimulai jam 09.30 karena Staf HRD-nya telat, alasan sih ada rapat pagi. Setelah selesai tes pada jam 11, 10 menit kemudian diumumkan peserta yang lolos. Alhamdulillah nama saya masuk.
selanjutnya diumumkan kepada kami untuk menunggu sampai jam setengah dua karena harus menunggu calon bos yang datang langsung dari jepang selesai makan siang. Saya mulai muak dengan mereka. Tidak tepat waktu, nggak ramah, selanjutnya menyuruh kami menunggu dua setengah jam hingga si bos selesai makan siang.
..dan akhirnya saya melangkah pergi.
Ketika sudah sampai pelataran BEI saya ditelpon oleh HRD. Mbak HRD setengah ngomel ditelpon, kata dia kesempatan ini nggak datang dua kali lho pak. Auk ah..maap ya mbak.
..ya Allah SWT maafkan hambamu ini yang dengan naifnya menjauhkan diri dari kesempatan dapat pekerjaan. Entah kenapa kaki ini bergerak begitu saja menjauhi kantor itu, semoga hal tersebut adalah petunjuk dari-Mu. Amiin.
(btw hari ini ketemu sohib lama setelah setahun lamanya tidak berjumpah, kebetulan kantor dia di tower 2 gedung yang sama. Eh wince kalo kamu baca ini thanks yaa untuk traktiran es teh manisnya)
Tags: Uncategorized
Petugas cleaning service, posisi mulia yang tidak semua orang ingin. Jika boleh memilih pasti kita akan menghindari pekerjaan kotor seperti menggosok toilet, mengepel, membersihkan kotoran yang menempel di lantai WC atau sekedar membersihkan sisa makanan yang berserakan. Kehadirannya di kantor (atau kampus) kadang dipandang sebelah mata. Sering diantara kita masuk WC dan lupa menyapa teman–teman petugas kebersihan.
Di kampus saya, beban kerja mereka sangat berat. Kehidupan kampus yang dimulai jam enam pagi dan baru berakhir jam 10 malam menjadikan beban pekerjaan mereka menjadi lebih berat. Tidak jarang saya membandingkan beban kerja mereka dengan sesama rekan petugas kebersihan yang berada di kantor lain atau mal yang tentunya dengan problem kebersihan yang tidak seberat di kampus saya.
Setiap orang punya cara sendiri untuk merubah nasib. Saya salut dengan mereka para petugas kebersihan di kampus yang kadang bekerja hingga jam sepuluh malam. Mereka digaji perjam, tiap harinya diupah sekitar Rp.22.000 dan rata-rata mereka bekerja sepuluh jam sehari. Tugas yang melelahkan, tapi mereka selalu bisa tersenyum saat ada orang melintas di lantai yang barusan mereka pel. Ikhlas hasil kerjanya dikotori lagi oleh kaki basah orang-orang yang melangkah dari tempat wudhu ke musholla.
Ada seorang petugas kebersihan di kampus yang tidak disukai oleh teman saya karena dianggap selalu menggerutu. Perilaku dia yang menyebalkan mungkin disebabkan oleh pekerjaan?
Entahlah. Awalnya saya juga tidak menyukai sikap dia yang awalnya saya anggap sedikit kurang ajar. Saya mulai mencoba menyapa dia sama seperti menyapa teman-teman yang lain. Lama kelamaan orang ini mulai bersikap baik dan mulai menyapa ramah terlebih dulu jika saya melintas didepannya.
Beberapa hari yang lalu saya berbincang-bincang dengan si petugas kebersihan itu. Hari itu dia cerita kepada saya mengenai pekerjaannya. Dia dituntut oleh atasan untuk segera
membersihkan ruangan pada akhir perkuliahan, itu sudah masuk dalam prosedur kerja yang harus dipatuhi. Seringkali dia merasa kesal saat para mahasiswa tidak segera keluar dari kelas ketika pelajaran selesai dan bahkan meninggalkan begitu saja barang-barang di dalam kelas. Beberapa kejadian barang hilang yang akhir-akhir ini sering terjadi di kampus membutuhkan kambing hitam yang tepat. Pihak yang paling lemah dan selalu disalahkan jika ada kejadian barang hilang adalah para petugas kebersihan. Setelah tuntas mendengarkan ceritanya saya berkesimpulan bahwa si petugas cleaning service itu ternyata tidak jauh berbeda dengan saya yang juga ingin dihargai dan diperlakukan manusiawi.
Banyak hal yang bisa kita lakukan menghargai untuk mereka, mulai dengan tidak membuang bungkus makanan disembarang tempat, selalu membuang sampah ke tempat sampah yang disediakan, bersegera keluar kelas setelah pelajaran selesai agar mereka bisa langsung membersihkan, menyapa mereka jika bertemu pandang, memeriksa kebersihan kloset sehabis kita pakai, membersihkan sepatu ke keset sebelum melintas di lantai yang barusan mereka pel, dan sebagainya. Banyak hal-hal kecil yang bisa kita lakukan untuk menghargai mereka.
Tags: Uncategorized
March 12th, 2008 · 1 Comment
Saya menikmati kemewahan itu di UNAIR, kampus negeri yang (konon katanya) terpandang di kawasan Indonesia timur. Sekarang sih juga lagi menikmati kuliah bermutu (…namun dengan biaya yang bisa untuk menyekolahkan 500 anak putus sekolah..)
Saya dulu masuk Unair melalui sebuah sistem yang disebut SPMB. Sistem yang saat ini menjadi topik panas dalam perbincangan mengenai sistem pendidikan di Indonesia. Sistem penerimaan ini ditentang oleh beberapa universitas negeri, termasuk juga Unair dan ITS. Katanya sih masalahnya sepele, urusan duit dari pusat yang nggak jelas.
Uang, inti dari segala kerumitan ini.
Dengar di radio tadi pagi bahwa sebenarnya biaya yang dikeluarkan untuk memproses satu calon sebesar Rp.150 ribu (IPA/IPS) sampai Rp. 170 ribu (jika mengambil pilihan IPC). Itu masih biaya pokok belum lain-lain. Pihak pihak yang menolak sistim SPMB mengatakan bahwa tidak ada transparansi mengenai uang yang dikumpulkandari para calon mahasiswa. (ah, kayak nggak tahu aja dari dulu kan juga seperti itu. aneh kok baru teriak-teriak sekarang)
Keputusan itu akan menghasilkan kerumitan baru bagi para calon mahasiswa. Dengan berlakunya dua sistem, SPMB dan UMPTN (sistim ini dikelola swadaya oleh kampus yang menolak sistim SPMB) pasti sedikit banyak akan berdampak pada biaya dan waktu yang dikeluarkan oleh calon mahasiswa. Di negara yang tercinta ini mau daftar sekolah aja sudah keluar ongkos macam-macam. Kalo nggak salah dulu tahun 2002 saya beli formulir SPMB seharga Rp. 200 ribu, entah sekarang berapa biaya yang harus dikeluarkan calon mahasiswa.
Apakah dua sistem ini akan benar-benar menambah kesulitan bagi calon mahasiswa? entah. Coba telaah skenario ini: si Mumun anak desa yang pintar dan cerdas, nilai EBTANAS (nilai akhir) nyaris sempurna dan menjadi salah satu peraih nilai tertinggi di level Provinsi. Si Mumun ingin mencoba peruntungan dengan mendaftar di fakultas psikologi UI. Si mumun tidak begitu saja menggantungkan nasib pada satu pilihan, dia juga butuh cadangan. Pilihan kedua jatuh pada fakultas psikologi UNAIR yang mengadakan seleksi swadaya bernama UMPTN. Si mumun harus beli formulir SPMB jika ingin ke UI, dan dia juga harus punya formulir UMPTN jika ingin ke Unair.
Duit dari mana Mun? daripada uang hilang jika gagal masuk SPMB dan UMPTN akhirnya bapak si Mumun menyarankan anaknya masuk kursus menjahit di dekat rumah yang jauh
lebih murah dari segi biaya. Akh..
Tags: Uncategorized
John scofield, John lowery dan John mayer. Tiga Joni ini sama-sama gitaris dan aransemen musik yang mereka ciptakan adalah definisi tunggal untuk musik yang bagus (menurut saya).
Jhon yang Scofield adalah gitaris jazz yang memiliki keunikan dari gaya bermain staccato, improvisasi unik, soulful dan pilihan nada yag dia pilih selalu menyentuh emosi terdalam (tsaah..). Untuk pemula yang ingin berkenalan dengan Scofield coba dengar track “I don’t need no doctor”.
Jhon yang kedua adalah John lowery atau biasa dipanggil John 5. Mantan gitaris Marlyn manson, ex-player di Rob Zombie dan suami dari pemain bokep terkenal yang saya lupa namanya. Senjata andalannya Fender Telecaster J5 signature (yang replikanya saya bikin disemarang, penting gaya). John 5 adalah seorang shredder era modern, kalo kamu dengar dia main pasti terkesima dengan pilihan nada yang sangat merepresentasikan aura gothic, gloom. Dark. Sisi lain dari dirinya adalah gitaris folk country. Gila. Di satu malam bermain metal cadas dan di malam yang lain going country ria. Mulailah mengaguminya.
Yang terakhir, John mayer. Punggawa blues era baru yang mampu membawa blues seringan mungkin hingga cewek-cewek wangi pun mendekat. Bakat dan talenta bermusiknya luar biasa, mampu memberikan nyawa untuk seluruh lagu. Terhitung mulai dari eric clapton, john scofield dan senior blues lain dengan sudi hati mau ber-jam session dengan Mayer. Album TRY! Adalah favorit saya sepanjang masa. Disitu dia bermain dengan lepas, liar, penuh improvisasi dan secara utuh menunjukkan talenta yang dimiliki.
Tags: Uncategorized