Kebenaran moral mengajarkan bahwa berbuat baik itu harus disertai ketulusan. Tapi apakah ketulusan berbuat baik benar-benar pilihan yang paling tepat?
Coba kita telaah. Dalam kaidah game theory dijelaskan posisi yang diambil oleh pihak kedua-lah yang menentukan insentif
yang diterima pihak pertama. Strategi yang paling optimum adalah ketika semua orang berbuat baik untuk orang lain. Si pelaku kebaikan tentu tidak mau dibalas dengan kejahatan, sehingga memilih berbuat baik hanya pada sesama pelaku kebaikan. Secara prinsip, dengan berbuat baik kepada orang lain maka kita lebih berpeluang memperoleh insentif berupa (balasan) perbuatan baik. Jika pihak kedua telah memastikan juga akan berbuat kebaikan maka perbuatan baik akan dilakukan dengan tulus, jika tidak, maka pihak pertama dapat memilih pura-pura berbuat baik saja.
Nah, seberapa efektifkah menjadi seorang yang selalu tulus berbuat baik?
Dalam interaksi jangka pendek memang lebih menguntungkan pura-pura berbuat baik, tapi jika kita menyadari bahwa hidup
adalah permainan yang berulang-ulang (repetitive game), strategi yang paling baik adalah tulus berbuat kebaikan dan berbagi insentif melalui kolaborasi.
Bagaimana caranya mendeteksi apakah seseorang pura-pura berbuat baik atau tulus berbuat kebaikan? Gampang, pada interaksi-interaksi awal sebagian besar orang masih belum tulus melakukan kebaikan. Semua manusia memiliki naluri mengoptimalkan utilitasnya dengan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian berbuat baik. Sulit untuk bersikap tulus pada interaksi pertama jika masih ragu dengan reaksi pihak lawan. Seseorang baru bisa dikatakan bersikap tulus jika unsur afeksi lebih kuat mempengaruhi tindakan, sudah tidak peduli lagi dengan optimalisasi keuntungan dan konsisten melakukan kebaikan walaupun kadang menimbulkan dis-insentif bagi diri sendiri.
Ah sudahlah….
(posting ini terinspirasi dari bahasan di diskusi ekonomi.com)
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below..
Leave a Comment