Adika fajar isn’t the most popular kid in school. Or the brightest. Or the most athletic.

Entries from February 2008

Pekerja Keras selalu masuk angin, orang pintar jual obat masuk angin

February 6th, 2008 · No Comments

Setelah menyetir terlalu lama saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan saya.

“Abang mau beli kue?” Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya.

“Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan,” jawab saya ringkas dan akhirnya dia berlalu.

Pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Gak sampe 20 menit kemudian saya
melihat anak tadi menghampiri calon pembeli lain. Saya lihat dia menghampiri sepasang suami istri. Mereka juga menolak tawaran anak itu, dan dia berlalu begitu saja.

“Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?” tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya lagi.

“Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih,” kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pun pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, “mau beli kue saya Bang, Pak… Kakak,… Ibu.” Halus budi bahasanya pikir saya.

Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Namun belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi sudah berdiri di samping mobil. Dia tersenyum kepada saya. Saya turunkan kaca jendela, dan membalas senyumannya.

“Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlu bawa kue saya buat oleh-oleh untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang,” katanya sopan sekali, sambil tersenyum. Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya.

Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati.
Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya. “Ambil ini Dik! Abang sedekah… Tak usah Abang beli kue itu.” Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan yang meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima restoran. Saya gembira dapat membantunya.

Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah kagetnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis buta. Saya terkejut, saya hentikan mobil, dan memanggil anak itu. “Kenapa Bang, mau beli kue ya?” tanyanya.

“Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!” kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

“Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis.
Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat Bang!” katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

“Abang mau beli semua ?” dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata. “Rp 25.000,- saja Bang….” Dengan gembira dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan berlalu dari pandangan saya.

Ya Tuhan!. Saya hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati, Adakah produser sinetron yang mau mengangkat cerita ini jadi FTV terbaru?

Tags: Uncategorized

Berbuat baik dengan tulus atau pura-pura berbuat baik saja?

February 1st, 2008 · No Comments

Kebenaran moral mengajarkan bahwa berbuat baik itu harus disertai ketulusan. Tapi apakah ketulusan berbuat baik benar-benar pilihan yang paling tepat?

Coba kita telaah. Dalam kaidah game theory dijelaskan posisi yang diambil oleh pihak kedua-lah yang menentukan insentif
yang diterima pihak pertama. Strategi yang paling optimum adalah ketika semua orang berbuat baik untuk orang lain.
Si pelaku kebaikan tentu tidak mau dibalas dengan kejahatan, sehingga memilih berbuat baik hanya pada sesama pelaku kebaikan. Secara prinsip, dengan berbuat baik kepada orang lain maka kita lebih berpeluang memperoleh insentif berupa (balasan) perbuatan baik. Jika pihak kedua telah memastikan juga akan berbuat kebaikan maka perbuatan baik akan dilakukan dengan tulus, jika tidak, maka pihak pertama dapat memilih pura-pura berbuat baik saja.

Nah, seberapa efektifkah menjadi seorang yang selalu tulus berbuat baik?

Dalam interaksi jangka pendek memang lebih menguntungkan pura-pura berbuat baik, tapi jika kita menyadari bahwa hidup
adalah permainan yang berulang-ulang (repetitive game), strategi yang paling baik adalah tulus berbuat kebaikan dan berbagi insentif melalui kolaborasi.

Bagaimana caranya mendeteksi apakah seseorang pura-pura berbuat baik atau tulus berbuat kebaikan? Gampang, pada interaksi-interaksi awal sebagian besar orang masih belum tulus melakukan kebaikan. Semua manusia memiliki naluri mengoptimalkan utilitasnya dengan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian berbuat baik. Sulit untuk bersikap tulus pada interaksi pertama jika masih ragu dengan reaksi pihak lawan. Seseorang baru bisa dikatakan bersikap tulus jika unsur afeksi lebih kuat mempengaruhi tindakan, sudah tidak peduli lagi dengan optimalisasi keuntungan dan konsisten melakukan kebaikan walaupun kadang menimbulkan dis-insentif bagi diri sendiri.

Ah sudahlah….

(posting ini terinspirasi dari bahasan di diskusi ekonomi.com)

Tags: Uncategorized