Adika fajar isn’t the most popular kid in school. Or the brightest. Or the most athletic.

Pemilik remote TV dengan segala kedigdayaannya mampu menguasai dunia pertelevisian

January 9, 2008 · 1 Comment

.. dari sudut pandang pemilik remote TV.

Para pemegang remote TV memiliki kekuasan absolut. Para pemilik kekuasaan absolut tidak perlu loyal kepada objek yang dapat mereka kontrol. Merekalah yang memiliki kuasa atas eksistensi objek. Dalam kenyataan, kita punya pilihan +/- 13 stasiun tivi nasional, plus beberapa TV lokal, belum lagi mereka yang berlangganan TV kabel tentunya memiliki kesempatan untuk mengkonsumsi informasi dari beragam provider. Pemirsa TV yang paham betul bahwa mereka memiliki kekuasaan absolut atas beberapa alternatif pasti tidak akan loyal pada (siaran) TV.  Apa susahnya untuk mengambil remote dan mengganti saluran tivi?

Loyalitas adalah symptom awal dari kekecewaan. Jika pada suatu saat acara tv yang ditunggu-tunggu itu menyajikan tayangan yang tidak menarik, dapat dipastikan timbul kekecewaan, itu lumrah. Tapi apakah kekecewaan itu benar-benar dalam konteks yang tepat? Suatu contoh, acara berita di TV. Yang terpenting adalah motif dibalik menonton acara berita di TV: untuk mengetahui update berita terkini? Memperoleh informasi macet tidaknya jalanan, ingin hiburan dari berita-berita humanisme? Atau sekedar menyibukkan mata dan pendengaran sembari makan pagi?

Kita adalah monopolis sejati saat memegang remote TV. Prinsip insentif-disinsentif merupakan mekanisme yang menggerakkan jempol menekan tombol untuk memindah saluran tivi. Kita baru kecewa jika tidak punya pilihan lain, itulah kekecewaan absolut (halaah…) Jika acara tivi yang saya sukai, tiba-tiba secara konsisten menyajikan tampilan yang kurang berkualitas (menurut pendapat saya pribadi) dan membuat saya tidak bergairah lagi menonton, maka saya tidak akan berpikir dua kali untuk menekan remote TV dan langsung mengakses berita di media lain. Sudah itu saja, saya memilih jadi silent complainer  dan merasa tidak punya kewajiban untuk menjaga kualitas siaran TV nasional. Dengan diam, insentif yang saya peroleh jauh lebih besar dari alternatif complain lain yang dapat saya lakukan.

Apatis? entah.

Mungkin banyak orang seperti saya di Negara ini sehingga sinetron yang menye-menye membanjiri hampir seluruh tv nasional, band tiga kord disanjung bagai radja disetiap acara musik. Berkebalikan, ada segelintir orang yang kritis dan langsung bergerak untuk memberikan saran. Bahkan ada yang langsung mengirim sms ke penyiar saat siarannya memburuk. (Atau saat itu lebih mudah menjangkau handphone dari pada remote TV? ;-p).

Saya sendiri sih lebih suka menonton siaran berita di TV dengan volume di-mute, penyiar cantik itu telah memikat saya, meskipun wajah dia judes dan beritanya kadang nggak penting. Untuk melahap informasi, saya lebih percaya dengan internet dan tv kabel. Bukannya saya tidak percaya dengan omongan penyiar cantik itu…

               

 

====================================================================
masalah juga dapat muncul jika terlalu banyak yang memegang remote. semua merasa berhak untuk mengubah. beberapa kekuasaan tidak ditangan yang tepat.

ah sudahlah..

Categories: Uncategorized



1 response so far ↓

  •   camel // Jan 9th 2008 at 5:06 pm

    hehe asik juga mahasiswa S2 punya bahasa :D dari berbagai sudut pandang yang unik menurut saya.

    (tidak sulit kok berbahasa indonesia yang baik dan benar ekekekek)

    you know lah…halah campur2 maneh

Leave a Comment