Adika fajar isn’t the most popular kid in school. Or the brightest. Or the most athletic.

Entries from January 2008

January 11th, 2008 · No Comments

Dscn9906ke taman mini, januari 2008:

belajar gamelan di anjungan bali.

makan siang bareng di pinggir danau. aik makasih schootelnya ueenak maknyuss.

nonton ribuan ikan dan ribuan kupu-kupu. ketemu araiphama fish yang gueeede buangett.

melihat matahari terbenam yang paling indah selama setahun tinggal di jakarta.

tentunya, hari itu kami masih lupa umur. hehe.

Kunjungi Taman Mini, Cintai Indonesia! yeaah!

Tags: Uncategorized

5 reason why i love testing

January 10th, 2008 · No Comments

-keep me away from big mistakes
-keep me away from unexpected failure
-keep me away from small mistakes
-keep me away from losing my credibility
-keep me away from losing my money

Tags: Uncategorized

aku menatap kantong plastik hijau, dan dia balas menatapku

January 10th, 2008 · No Comments

Si Kasir berkata: nggak beli kantong plastiknya Bu? Ibu saya cuma melengos, entah karena tidak suka dengan model tas, merasa tidak perlu beli kantong plastik atau karena terburu-buru. Tapi saya yakin Ibu tidak beli bukan karena tidak mendukung isu penyelamatan lingkungan.
Beliau cukup peduli kok, buktinya saya selalu diteriaki jika lupa mematikan
lampu atau menggunakan air secara berlebihan.

Dsc01276

Kantong plastik ini dijual dengan harga 2000 rupiah dan bisa anda beli di Carrefour terdekat. Apa keistimewaan dari kantong plastik ini? Gambar pohon, warna hijau dan tulisan “selamatkan lingkungan” rasanya cukup untuk menjelaskan makna kehadiran kantong plastik itu.

Isu lingkungan..??

Saya rasa kurang bijak mengaitkan kantong plastik itu dengan misi penyelamatan lingkungan hidup. Ada ada saja Carrefour kalau mau ambil untung..

Memang benar, bahwa kantong belanja berkontribusi pada pencemaran lingkungan. Karena itu banyak yang menganjurkan kita membawa sendiri kantung belanja dari rumah untuk mengurangi sampah kantong plastik. Tapi berapa banyak orang yang paham dan mempraktekkan?

Keputusan Carrefour untuk menjual kantong plastik “lingkungan” akan mengarah ke komersialisasi daripada misi lingkungan ketika motivasi para pembeli kantong plastik bukan untuk pemakaian ulang. Entah berapa banyak orang yang beli kantong plastik itu. Apakah mereka beli karena karena prihatin dengan kerusakan lingkungan, atau mereka membeli cuma karena suka dengan model dan gambarnya.

Kembali ke Carrefour. Apakah Carrefour sudah mensosialisasikan konsep penyelamatan lingkungan kepada para pelanggannya? Belum tuh.

Tags: Uncategorized

Pemilik remote TV dengan segala kedigdayaannya mampu menguasai dunia pertelevisian

January 9th, 2008 · 1 Comment

.. dari sudut pandang pemilik remote TV.

Para pemegang remote TV memiliki kekuasan absolut. Para pemilik kekuasaan absolut tidak perlu loyal kepada objek yang dapat mereka kontrol. Merekalah yang memiliki kuasa atas eksistensi objek. Dalam kenyataan, kita punya pilihan +/- 13 stasiun tivi nasional, plus beberapa TV lokal, belum lagi mereka yang berlangganan TV kabel tentunya memiliki kesempatan untuk mengkonsumsi informasi dari beragam provider. Pemirsa TV yang paham betul bahwa mereka memiliki kekuasaan absolut atas beberapa alternatif pasti tidak akan loyal pada (siaran) TV.  Apa susahnya untuk mengambil remote dan mengganti saluran tivi?

Loyalitas adalah symptom awal dari kekecewaan. Jika pada suatu saat acara tv yang ditunggu-tunggu itu menyajikan tayangan yang tidak menarik, dapat dipastikan timbul kekecewaan, itu lumrah. Tapi apakah kekecewaan itu benar-benar dalam konteks yang tepat? Suatu contoh, acara berita di TV. Yang terpenting adalah motif dibalik menonton acara berita di TV: untuk mengetahui update berita terkini? Memperoleh informasi macet tidaknya jalanan, ingin hiburan dari berita-berita humanisme? Atau sekedar menyibukkan mata dan pendengaran sembari makan pagi?

Kita adalah monopolis sejati saat memegang remote TV. Prinsip insentif-disinsentif merupakan mekanisme yang menggerakkan jempol menekan tombol untuk memindah saluran tivi. Kita baru kecewa jika tidak punya pilihan lain, itulah kekecewaan absolut (halaah…) Jika acara tivi yang saya sukai, tiba-tiba secara konsisten menyajikan tampilan yang kurang berkualitas (menurut pendapat saya pribadi) dan membuat saya tidak bergairah lagi menonton, maka saya tidak akan berpikir dua kali untuk menekan remote TV dan langsung mengakses berita di media lain. Sudah itu saja, saya memilih jadi silent complainer  dan merasa tidak punya kewajiban untuk menjaga kualitas siaran TV nasional. Dengan diam, insentif yang saya peroleh jauh lebih besar dari alternatif complain lain yang dapat saya lakukan.

Apatis? entah.

Mungkin banyak orang seperti saya di Negara ini sehingga sinetron yang menye-menye membanjiri hampir seluruh tv nasional, band tiga kord disanjung bagai radja disetiap acara musik. Berkebalikan, ada segelintir orang yang kritis dan langsung bergerak untuk memberikan saran. Bahkan ada yang langsung mengirim sms ke penyiar saat siarannya memburuk. (Atau saat itu lebih mudah menjangkau handphone dari pada remote TV? ;-p).

Saya sendiri sih lebih suka menonton siaran berita di TV dengan volume di-mute, penyiar cantik itu telah memikat saya, meskipun wajah dia judes dan beritanya kadang nggak penting. Untuk melahap informasi, saya lebih percaya dengan internet dan tv kabel. Bukannya saya tidak percaya dengan omongan penyiar cantik itu…

               

 

====================================================================
masalah juga dapat muncul jika terlalu banyak yang memegang remote. semua merasa berhak untuk mengubah. beberapa kekuasaan tidak ditangan yang tepat.

ah sudahlah..

Tags: Uncategorized

you punya attitude kok unique bangedd sich?

January 7th, 2008 · 3 Comments

Cintah laurah…

Indonesia ini Negara besar, dari masing-masing daerah kita punya beragam budaya. Setiap budaya membawa bahasa lokal tersendiri. Untunglah, ada bahasa Indonesia yang mampu menyatukan keragaman tersebut.

Cintah laurah..

Beberapa dari anak muda kita masih agak malu-malu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebagian mencampurnya dengan bahasa Inggris agar terlihat well educated, sebagian mencampurnya dengan bahasa gaul agar terkesan sebagai orang yang trendy gaul getu lho bok. Saya juga termasuk salah satu dari dua kriteria memalukan tersebut. Mengejar kesan well educated ataupun kesan gaul adalah alasan kuat untuk menyiksa budaya.

Cintah laurah..

Penggunaan bahasa Ingglish (Indonesia campur inggris) menjadi pola baku dalam percakapan kaum elit di Jakarta dan kota besar lainnya. Kadang mereka gunakan kadang tidak, itu tergantung dari level lawan bicaranya, seringkali digunakan untuk tujuan unjuk kecerdasan. Saya pernah mencoba meniru tren Ingglish biar kelihatan keren, tapi apa daya lidah saya terlalu kaku dan otak saya terlalu lambat untuk mengingat beragam kosakata bahasa inggris.

Cintah Laurah..

Ada satu selebriti yang saya kagumi, namanya dek Cintah laurah. Dia selebriti paling keren karena mampu menggunakan Ingglish dengan faseh. Dia bukan anak Pak Laurah atau anak Pak Camat. Mungkin dia anak bule kesasar yang nggak sengaja kencing di sungai di pinggiran Tegal dimana ada wanita lokal yang sedang berendam mencuci seprei. Saya tahu dia tidak cantik-cantik amat, tapi dia mampu menarik hati saya melalui bibirnya yang menyong menying saat mencampur bahasa Indonesia tanah air kita tercinta dengan bahasa Inggris yang asalnya dari negeri nun jauh dipojok sana. Ah, andainya cinta laurah ada disini pasti saya minta diajari agar lebih pandai mencampur bahasa sehingga kelihatane gaul dan pinter. Andaikan..

Cintah laurah..

Sekarang Cintah adalah tren, kemunculannya di setiap infotainment telah membuka mata sebagian besar orang. Cintah telah membesarkan hati seluruh anak perempuan diseluruh Indonesia bahwa mereka bisa juga jadi artis jika punya tampang bule, mampu berbicara dengan logat bule serta mampu berkomunikasi dalam bahasa campuran Indonesia dan inggris.

Saran dari kami:

1.Gunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Saya mulai mencoba ber-EYD-an, anda juga harus coba. Gorys Keraf dan J.S. Badudu pasti sangat mendukung inisiatif kita.

2.Bahasa Indonesia lebih kaya perbendaharaan kata. Jangan malu pakai kata “bahwasanya”, “mengacu”, “berwacana”, “merindu”, “meratap” dan berbagai kata lain yang nyaris musnah karena jarang digunakan dalam percakapan harian.

3.Cintai Cintah Laurah dengan sepenuh hati. Dia hanya dampak negatif dari “investasi asing” di Indonesia.

4.Jangan benci saya karena tulisan ini. Saya cuma orang yang kecewa karena tidak pernah bisa lancar menggunakan bahasa inggris dalam percakapan sehari-hari.

5.Bahasa inggris adalah bahasa global. Semua pengetahuan populer ditulis dalam bahasa inggris: buku, film, jurnal ilmiah, dan sebagainya. Jika mampu berbahasa inggris dengan baik dan benar, kita akan lebih percaya diri untuk mematikan fungsi teks terjemahan dalam setiap DVD bajakan yang kita tonton. Selalu semangat belajar bahasa inggris! yeah!

6.Ah sudahlah…tulisan ini cuma bullshit (tai kebo-red)

Tags: Uncategorized