Adika fajar isn’t the most popular kid in school. Or the brightest. Or the most athletic.

Anjing yang termarjinalkan

June 27, 2007 · 1 Comment

Konotasi kata ”anjing”
selalu jelek.

Makian ini sudah digunakan sejak jaman belanda nongol di bumi indonesia untuk sekedar menjajah. Kakek-kakek anda mungkin juga pernah menggunakan makian ini untuk menghina orang yang tidak taat pada aturan.

Bahkan di jaman ini di mana status pendidikan dan etika menjadi tolak ukur tata krama, makian ”anjing” masih
menjadi alat bantu favorit untuk melepaskan stress yang menjadi beban pikiran.

Kasian si anjing
namanya selalu disebut-sebut ketika ada pertengkaran…

 

Sebenarnya si
anjing sendiri nggak dosa-dosa amat lho.

Mereka cuma lahir dalam
bentuk hewan berkaki empat, bercongor dan liur yang selalu menetes. Hobi mereka cuma kencing sembarangan dan mengejar orang yang tidak dikenal.

Apa salahnya?
toh manusia juga ada yang lebih kasar dan lebih tidak punya tata krama dibanding mereka.

Anjing menggigit..itu sakit,
tapi sakitnya cuma sampai opname. Manusia bisa berkata, menyakitkan dan
sakitnya bisa dirasakan sepanjang hidup. ..aha..

 

Masih ingat
airbud (airbud 1,2 dan 3 yang menghibur)?

Masih ingat lassie?

Masih ingat
beethoven?

Banyak sekali
yang membuat film tentang anjing, ada sisi kelucuan, kesetiaan dan kesigapan
dari kaum anjing yang membuat manusia merasa perlu untuk membuat film tentang
anjing. Manusia hanya iri saja karena tidak bisa lebih lucu, lebih setia, lebih
sigap dan lebih waspada dari anjing.

 

udah ah dogshitnya (menggantikan bullshit=omong kosong)

Lassie

(Anjing kadangkala bisa lebih
bermartabat daripada manusia yang hanya bisa berkata kasar kepada sesama manusia)

Categories: Uncategorized



1 response so far ↓

  •   Arlin // Jun 27th 2007 at 7:46 pm

    berarti kata anjing nisa diartikan baik juga donk.. SECARA anjing kan sahabat manusia juga.. dia setia menemani majikannya, berkorban segalanya demi majikannya.. tul ga??

Leave a Comment