Kebebasan untuk berpikiran terbuka, fleksibel, dan kreatif dalam menghubungkan setiap petunjuk yang diberikan seringkali terhambat oleh adanya suatu hegemoni. Hegemoni sendiri bisa didefinisikan sebagai dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok lainnya, dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar…
contohnya seperti ini:
Pernahkah kamu dibuat jengkel oleh penjelasan bapak dan ibu dosen yang kukuh pada text book? kamu takut untuk mengeluarkan ide irasional karena tak ingin dapat nilai jelek di ujian? saya pernah. Saya pernah, dan barusan tersadar bahwa sebagian waktu saya dibangku kuliah habis hanya untuk menselaraskan pemikiran pribadi dengan teori-teori buku paket.
Berikut ada kisah menarik yang saya copy paste begitu saja dari www.cooperativeindividualism.org, an unverivied story about lateral thinking:
Some time ago I received a call from a colleague. He was about to give a student a zero for his answer to a physics question, while the student claimed a perfect score. The instructor and the student agreed to an impartial arbiter, and I was selected.
I read the examination question: “Show how it is possible to determine the height of a tall building with the aid of a barometer.” The student had answered: “Take the barometer to the top of the building, attach a long rope to it, lower it to the street, and then bring it up, measuring the length of the rope. The length of the rope is the height of the building.”
The student really had a strong case for full credit since he had really answered the question completely and correctly! On the other hand, if full credit were given, it could well contribute to a high grade in his physics course and certify competence in physics, but the answer did not confirm this.
I suggested that the student have another try. I gave the student six minutes to answer the question with the warning that the answer should show some knowledge of physics. At the end of five minutes, he hadn’t written anything. I asked if he wished to give up, but he said he had many answers to this problem; he was just thinking of the best one. I excused myself for interrupting him and asked him to please go on.
In the next minute, he dashed off his answer, which read: “Take the barometer to the top of the building and lean over the edge of the roof. Drop the barometer, timing its fall with a stopwatch. Then, using the formula x=0.5*a*t^2, calculate the height of the building.” At this point, I asked my colleague if he would give up. He conceded, and gave the student almost full credit.
While leaving my colleague’s office, I recalled that the student had said that he had other answers to the problem, so I asked him what they were.
“Well,” said the student, “there are many ways of getting the height of a tall building with the aid of a barometer.
For example, you could take the barometer out on a sunny day and measure the height of the barometer, the length of its shadow, and the length of the shadow of the building, and by the use of simple proportion, determine the height of the building.”
“Fine,” I said, “and others?”
“Yes,” said the student, “there is a very basic measurement method you will like. In this method, you take the barometer and begin to walk up the stairs. As you climb the stairs, you mark off the length of the barometer along the wall. You then count the number of marks, and this will give you the height of the building in barometer units.” “A very direct method.”
“Of course. If you want a more sophisticated method, you can tie the barometer to the end of a string, swing it as a pendulum, and determine the value of g [gravity] at the street level and at the top of the building. From the difference between the two values of g, the height of the building, in principle, can be calculated.”
“On this same tack, you could take the barometer to the top of the building, attach a long rope to it, lower it to just above the street, and then swing it as a pendulum. You could then calculate the height of the building by the period of the precession”.
“Finally,” he concluded, “there are many other ways of solving the problem. Probably the best,” he said, “is to take the barometer to the basement and knock on the superintendent’s door. When the superintendent answers, you speak to him as follows: ‘Mr. Superintendent, here is a fine barometer. If you will tell me the height of the building, I will give you this barometer.”
At this point, I asked the student if he really did not know the conventional answer to this question. He admitted that he did, but said that he was fed up with high school and college instructors trying to teach him how to think.
The name of the student was Niels Bohr.” (1885-1962) Danish Physicist; Nobel Prize 1922; best known for proposing the first ‘model’ of the atom with protons & neutrons, and various energy state of the surrounding electrons — the familiar icon of the small nucleus circled by three elliptical orbits … but more significantly, an innovator in Quantum Theory.

Niels Bohr (left side) and Einstein
Categories: Uncategorized
www.johnnybunko.com Go there and read the rest of stories, you will get an unconventional lesson on how to deal with vapidness life.

Bunko’s six lessons of satisfying, productive careers:
1.There is no plan.
2.Think strengths, not weaknesses
3.It’s not about you.
4.Persistence trumps talent.
5.Make excellent mistakes
6.Leave an imprint.
I made my own definition for Bunko’s six lesson. Here they are:
1. There is no plan, Yeah rite. Most of breaktrough aren’t well planned. It’s just come easily as like when you fart.
2. Think strengths, people sometimes worrying unimportant thing, their weakness.
3. Do the most right thing right in the exact time, or other people can’t get what they deserve.
4. Talent is a key resource to be used at an opportune moment.
5. Mistakes is easily recognized by others, announce to everyone that you are the most responsible person that can be blamed on. Turn your life from a guilty ones to weekend hero by using a well prepared explanation due to the problem and bright solution that might save the rest of your career.
6. Leave an imprint, in this case make your digital path, and let other people googling your data to ensure that they had made a good decision choosing you as a working partner.
Hehe.
Categories: Uncategorized
Bahagiakah kamu dengan karirmu saat ini? apakah yang kau kerjakan saat ini benar benar suatu hal yang sangat kamu cita-citakan saat masih berusia 15 tahun? ………………………………………………………..
Orang yang pesimis pasti mengubur impian masa kecilnya ketika telah beranjak dewasa dan menghadapi realita bahwa mengejar cita-cita tidak semudah yang dikira. Untuk mereka yang optimis dan tidak kenal kata menyerah pasti akan selalu mengisi jiwa dengan motivasi-motivasi baru agar terus bersemangat mengejar impian.
Tidak ada impian yang salah, ngawur, terlalu rendah atau terlalu tinggi. Kesalahan terbesar adalah jika memutuskan berhenti mengejar impian. Mimpi saya waktu jaman SMA sih simpel saja: kalo gede pengen jadi musisi yang giat membuat aransemen di studio musik pribadi berfasilitas super lengkap pada malam hari dan pagi harinya mencari uang untuk membayar cicilan rumah studio itu dengan berprofesi menjadi dosen di fakultas ekonomi. Ketika lulus sarjana S1 saya tegaskan lagi impian tersebut: dosen jurusan pemasaran. Nah, lulus S2 makin mantap saja cita-cita saya: dosen dengan minat penelitian pada corporate level strategy, corporate branding, SCM dan logistic system, e-channel management.
Kalau melihat realita hidup sekarang, kok saya malah sign kontrak dengan perusahaan farmasi. Beranjak dari rasa frustasi sejak gagal tes med-check untuk posisi sebagai credit analyst di Banknya Beni (nyesek euy..gila tinggal selangkah), saya sempat putus asa lalu gelap mata melamar kesemua perusahaan yang buka lowongan sampai akhirnya dipanggil oleh si market leader farmasi ini.
Posisi ditawarkan sebagai MDP, kompensasi yang diberikan cukuplah untuk nabung beli sebiji Fender Telecaster, dan perusahaannya berprospek cerah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tapi jujur, saya sangat sangaaat tidak nyaman dengan keputusan yang telah saya buat. Rasanya mual dan eneg kalo membayangkan harus bekerja di perusahaan distribusi farmasi dimana sindikasi perdagangan obat di indonesia membuat harga obat-obatan jadi sangat mahal dan susah diakses pasien ekonomi lemah (menurut menteri kesehatan Bu. Siti Fadilah Supari). Sementara perusahaan ini memonopoli distribusi puluhan produsen obat asing a.l. G*ax*, P**z*r, *v*nt*s, dst dst. Harga obat di Indonesia tidak rasional…besok saya akan kekantor untuk resign.
Saya memilih untuk menganggur lagi, mengirim surat lamaran lagi dan terus mengejar cita-cita jadi dosen, walau nantinya mungkin cuma diterima di universitas biasa-biasa saja yang tidak mentereng tapi saya yakin saya pasti menemukan lentera jiwa saya disana. Kebahagiaan menebar pengetahuan, membagi idealisme dan pandangan hidup, berdiskusi dengan mereka yang punya minat studi yang sama, berkehendak sesuai kata hati pasti akan lebih bermakna untuk kelanjutan hidup saya yang sejauh ini rasanya masih mengikuti pola yang dibuat orang lain..
ah sudahlah, serius amat nulisnya..
Categories: life
Bicara mengenai gitar, gue jatuh cinta dan mulai coba mengenal instrumen ini sejak kelas dua es-em-pe. Pertamanya dari gitar kopong bermerek yamaha 350, gitar sederhana yang beli di gramedia. Nyetel gitar ini susah banget untuk nyari tone yang tepat. Dapat setelan yang bagus, eh didiamin semalam udah geser nada lagi. Sekarang nasib gitar itu sekarang ada di rumah sepupu. Teronggok begitu saja.
Gitar kedua yang dibeli, waktu jaman sma kelas 2. Tidak bermerek, beli disebuah toko kecil di jalan Praban surabaya. Desainnya unik. Bodynya tebel. Fretnya konfigurasi 24. Mantaplah. Ditebus dengan harga 700-ribu pada waktu itu. Mahal sial, tapi sulit juga kalau sudah jatuh hati. Gitar seukuran stratocoustic (resonance box-nya), build quality yang kokoh, mid-nya dapet banget. Renyah gitu. Dulu doyan pake senar GHS. Pertama ukuran 0.09, trus gara-gara sering nge-bending trus putus mulu, maka ukuran senar naik lagi ke 0.10. terus naik pake 0.11. sempat pake 0.12 tapi ngos-ngosan kalo ngejar bending dan nahan sustain. Akhirnya awet di 0.11, sampe sekarang. Gitar akustik ini punya bentuk bentuk yang sangat praktis. Karena bentuknya, itu gitar bisa ditaruh posisi berdiri tanpa menggunakan sandaran lagi. Namun sayang, sekarang fret-fretnya dah mulai aus saking kebanyakan dipake.
Gitar ketiga adalah custom made Fender Telecaster J5 model. Konfigurasi kelistrikan didesain sendiri. Luthier lokal Semarang. Resep utama: no tone control. Paten di posisi 10. Bising, produsen desibel tinggi bikin pekak telinga. Hahaha. 5 way switch control. Humbucker duncan designed di area bridge dan single coil comotan dari telecaster di area neck.
Diatas pick up neck ada toggle switch two pick up on-off/mute-by pass. Pengennya sih maen kayak tom morello RATM. Susah juga. Sampai sekarang belum bisa rata. Di balik switch itu ada alur kabel yang menuju kontrol utama. Sebelum menuju ke pusat, dipasang resistor kecil untuk mengurangi overtone. Tapi pengaruhnya tidak terlalu signifikan ternyata, inovasi yang gagal itu masih terpasang belum sempat dibongkar lagi. Toogle 5 way switch adalah kombinasi dari dua pick up yang ada. Sehingga ada lima konfigurasi yang dapat dipilih.
Body yang dipilih adalah telecaster. Didapat dari telecaster bekas yang neck-nya udah rusak. Dikanibal. Kemudian body di renovasi, setelah rampung, finishing dengan cat warna merah marun tua, sisi samping diberi ornamen lis warna putih ala gitar retro. Neck gitar baru fresh, terbuat dari kayu alder dan bahan fretboard dari mahoni. Picking area dilandasi tiga lapis plastik. Mantap.
Senar yang dulunya paten GHS sekarang terpaksa ganti ke D’addario dengan alasan GHS sudah sulit dicari barangnya. Langka. Gak semua toko jual. Dengan alasan gak ingin ribet maka pindah ke D’addario, namun dengan ukuran yang sama di 0.11. Sebenarnya lebih prefer GHS untuk senar, sustain lebih panjang dan fingering lebih nyaman. Senar GHS empuk, gak mudah karatan pula. D’addario mudah sekali berkarat.
Okeh, sekian biodata gitar-gitar murah gue. Semoga tahun depan duit tabungan sudah mencukupi untuk nebus the REAL fender stratocaster. Amin.
Categories: Uncategorized
Si coklat keren udah laku, sarana transportasi yang setia nemenin selama dua tahun itu akhirnya harus diserahkan ke pemilik barunya. Sedih…
Oke, mari ke pembahasan utama.
Dalam sebuah buku yang ditulis, Kotler mengemukakan suatu metode kritis terkait dengan problem memilih partner yang dapat memberikan saran yang sesuai untuk kemajuan (bisnis) dan termasuk juga membantu mengimplementasikan saran tersebut. Cara yang tepat untuk menemukan seorang partner terbaik adalah menanyakan kepada seluruh kandidat partner sebuah pertanyaan dangkal: “Jam berapa sekarang?”
Jika partner pertama menjawab: ” Sekarang tepat jam 08.45 lebih 15 detik”. Kalau yang anda inginkan dari seorang partner adalah analisa komprehensif yang berisikan fakta-fakta yang akurat, pilihlah partner itu.
Jika partner kedua menjawab: “Anda inginnya sekarang jam berapa?”. Jika yang anda cari adalah pembuktian yang sebenarnya hanya menguatkan hal-hal yang sudah anda kerjakan sebelumnya, dan bukannya sebuah saran dan kritik obyektif, maka orang ini adalah orang yang
tepat.
Jika partner ketiga menjawab: “Mengapa anda ingin tahu sekarang jam berapa?” Pilihlah partner ini jika yang kita inginkan adalah hasil pemikiran yang orisinil, seperti kemampuan mendefinisikan pokok masalah dengan lebih teliti dan hati-hati.
Ok, sekarang kita analogikan bahwa kandidat partner adalah para kandidat calon pasangan hidup. Secara fungsional sama, hadir untuk menemani perjalanan hidup, memberi kritik secara obyektif dan loyal terhadap kesepakatan yang telah dibuat.
Untuk memilih calon pasangan hidup yang tepat, berlakulah seolah tidak tahu apa-apa mengenai si do’i, hilangkan semua rumor, hilangkan semua persepsi dan asumsi yang sudah muncul lebih dahulu di pikiran kita. Intinya bersihkan otak dari persepsi, simpan dulu gejolak cinta dan datarkan emosi, untuk proses ini kekuatan logika akan lebih diperlukan.
Selanjutnya ajukan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar sekali. Misal: “Seberapa enak mi goreng buatanku, sayang?”
Jika pacar 1 menjawab: “Mi goreng buatanmu adalah Indomie goreng keluaran pabrik Indofood yang memiliki konsistensi kualitas, dan juga rasa yang terstandarisasi. Untuk produk massal seperti ini aku tidak mengharapkan sesuatu keunikan rasa yang spesial karena kegiatan konsumsi produk ini sudah kulakukan sejak lama, bahkan sebelum berpacaran denganmu”. Jika calon pasangan hidup yang kamu inginkan adalah seorang yang bisa memberikan arah dan pemahaman tentang hidup berdasarkan fakta-fakta yang akurat dan berdasarkan pengalaman hidup yang kaya makna, nikahilah orang ini.
Jika pacar 2 menjawab: “Masakan yang kamu buat selalu enak, sayang”. Jika yang anda cari adalah seseorang yang selalu berusaha mendorong dan menguatkan hal-hal yang anda sudah kerjakan sebelumnya, pilih orang ini sebagai pasangan hidup anda.
Jika pacar 3 menjawab: “Kok kamu nanya-nanya kayak gitu sich??”. Pilihlah orang ini, segera nikahi! jika yang anda inginkan adalah pasangan hidup yang memiliki pemikiran-pemikiran yang orisinil dan memiliki kemampuan mendefinisikan pokok permasalahan dari sisi lain, memberikan gambaran obyektif dan analisis yang lebih hati-hati.

Bagaimana menurut kalian?
silahkan uji teori ini dan gunakan metode yang telah diterangkan sebelumnya ke pacar kalian, saya sih belum punya pacar sehingga hanya bisa berteori saja sejauh ini. He he heh.
Categories: Uncategorized
Kebangkitan bangsa, perubahan nasib ke arah lebih baik. Sebuah upaya yang tidak mudah. Sangat sistematis, coba baca saja strategic plan Indonesia 2030. Baca saja, konsepnya bagus tuh. Sangat terstruktur dan logis, hingga muncul pertanyaan: Konsultan mana yang dapat order untuk menyusun?
Perencanaan strategis sebagus apapun akan menjadi hampa jika hanya ada segelintir orang yang berkomitmen. Kunci sukses dari kebangkitan bangsa adalah adanya komitmen bersama dalam membela harkat dan martabat bangsa. Dibutuhkan pembangkit baru yang militan dan loyal, ratusan ribu bahkan berjuta-juta individu yang sangat bersimpati pada nasib negaranya dan berusaha menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik, apapun peran sosial mereka. Itu yang susah, perlu dibina dari awal, dengan mekanisme dan insentif yang tepat. Pembangkit bangsa adalah individu-individu penuh determinasi, kapabilitas tinggi, cinta tanah air dan prihatin pada nasib jelek bangsa ini yang berjalan terseok-seok. Kalo bikin perencanaan strategis saja sih gampang, tapi upaya menciptakan para pembangkit bangsa yang memiliki jiwa nasionalisme jauh lebih susah.
Nasionalisme saat ini menye-menye, itu istilah saya. Jarang sekali ada tokoh yang mau bicara lantang dihadapan publik mengkritik pudarnya nasionalisme. Salah satu dari orang istimewa tersebut adalah almarhum Sophan Sophiaan. Bahkan saat diwawancarai sebelum meninggal, almarhum sempat mengkritik para pemuda-pemudi saat ini yang dengan fasihnya bisa hafal semua lagu saat ada konser musik, tapi tidak bisa mengingat lirik lagu Bagimu negeri.
Kasihani negara dan bangsa ini, mari kita berubah, mulai dari hal yang kecil saja…saya sekarang lagi mengubek-ubek google mencari lirik lagu Garuda Pancasila untuk coba dihafalkan kembali. Kamu?
Hari kebangkitan nasional jatuh esok hari, saya takut besok adalah kesempatan terakhir memperingati kebangkitan nasional.
Thomas-Uber kalah, rakyat tercekik harga, biaya pendidikan semakin mahal, bisa-bisa suatu hari nanti ada hari khusus untuk memperingati keterpurukan nasional.
Hari keterpurukan nasional, benderanya setengah tiang.
Categories: Uncategorized
Review film
The Bucket List (Jack Nicholson, Morgan Freeman, 2007)
Highly
recommended!
Film ini bercerita tentang persahabatan antara dua tokoh yang sebelumnya
tidak mengenal satu sama lain sampai keduanya harus berbagi kamar di sebuah
rumah sakit. Chamber, yang diperankan oleh Morgan Freeman adalah seorang montir mobil yang memiliki kehidupan keluarga yang harmonis, istri yang setia dan anak-anak yang sangat memperhatikan orang tuanya. Edward, teman sekamarnya, diperankan oleh Jack Nicholson. Dia adalah pemilik dari rumah sakit itu , yang lucunya harus dirawat bersama pasien lain (Chamber) karena rumah sakit miliknya punya kebijakan tidak menyediakan kamar single bed bagi pasien dengan alasan mengejar efisiensi. Meskipun kaya raya dan menjadi pemilik puluhan perusahaan dia tidak memiliki kehidupan lain selain bisnis, tidak berkeluarga dan tidak pernah sekalipun dijenguk oleh keluarganya ketika sakit. Karakternya digambarkan memiliki determinasi tinggi, arogan dan eksentrik. Jauh berbeda dengan Chamber yang memiliki pembawaan tenang, religius dan bijaksana. Latar belakang kehidupan dua karakter tersebut sangat
kontras. Hanya ada satu kesamaan dari keduanya, dokter telah memvonis bahwa sisa usia mereka berdua tidak akan lebih dari satu tahun dikarenakan kanker dan tumor otak yang menyerang kedua pria lanjut usia itu.
Cerita berawal ketika Chamber tidak sengaja membuang secarik kertas di lantai kamar perawatan mereka. Kertas itu kemudian diambil oleh Edward yang kemudian penasaran apa maksud dari Chamber menulis daftar tersebut (bucket list). Dijelaskan oleh Chamber bahwa daftar itu adalah daftar keinginannya sebelum mati, antara lain ngebut pakai ford mustang GT, menolong orang tak dikenal untuk bertemu tuhan, tertawa sepuas-puasnya, menyaksikan suatu keajaiban, safari ke himalaya, india, mesir, afrika, china dan sederet keinginan lain yang menunggu untuk diwujudkan. Edward yang sangat antusias dengan daftar keinginan Chamber (kemudian mereka menamakannya the bucket list) berinisiatif mengajak sahabat barunya itu untuk mewujudkan keinginan-keinginan yang belum terpenuhi dalam hidup. Edward juga berinisiatif menambahkan beberapa keinginan dalam daftar tersebut, antara lain mencoba skydiving dan mencium cewek tercantik didunia.
Kedua pria yang memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda ini kemudian terlibat dalam petualangan-petualangan seru dan unik, antusiasme keduanya dalam menikmati setiap detik dari sisa usia sangat terlihat nyata dan menggugah. Kebut-kebutan disirkuit, safari dan berkemah di afrika, apapun dalam daftar itu dapat diwujudkan oleh Edward karena kekayaannya seakan tidak pernah habis. Konflik dimulai ketika Chamber bekerjasama dengan asisten Edward untuk membawanya (Edward) kerumah anak perempuan Edward yang sudah dilupakan bertahun-tahun. Edward tersinggung karena merasa Chamber mulai terlibat terlalu dalam dalam kehidupan pribadinya. Petualangan dua sahabat itu berakhir ketika Edward menyobek bucket list dengan penuh amarah.
Kedua lelaki tua itu kembali pada ritme kehidupan mereka semula. Edward kembali ke rumahnya yang luas, menghabiskan waktu bersama gadis-gadis muda, memimpin rapat perusahaan, kembali ke kehidupannya yang prestisius, namun hampa. Chamber kembali ketengah-tengah keluarganya, berkumpul bersama menikmati kehangatan makan malam bersama istri, anak dan cucu yang sangat menyayangi. Hingga pada suatu saat, Edward menerima kabar dari istri Chamber bahwa sahabatnya berpetualang saat ini terkapar tak berdaya dan harus menjalani operasi pengangkatan tumor otak.
Ketika dijenguk Edward, Chamber yang telah siuman memaksa sahabatnya membaca secarik kertas. Kertas tersebut berisi informasi mengenai biji kopi luwak minuman favorit kebanggaan Edward. Edward si penggemar kopi luwak terperangah saat mengetahui bahwa kopi kebanggaannya ternyata berasal dari kotoran binatang. Keduanya spontan tertawa terbahak-bahak. Momen yang mengesankan, ancaman kematian ternyata tidak menghentikan selera humor. Tidak lama setelah itu, Chamber meninggal, operasi yang dijalankan tidak sanggup menyelamatkan nyawanya.
Pada saat sahabatnya menjalani operasi, Edward memenuhi keinginan Chamber yang ingin dia (Edward) bertemu kembali dengan anaknya. Edward memberanikan diri untuk datang kerumah anak perempuannya yang bertahun tahun diacuhkan. Hal yang ditakutkan Edward bahwa anaknya akan menolak kehadirannya ternyata tidak terbukti. Dia diterima dengan penuh kelapangan hati oleh sang anak.
Tidak beberapa lama setelah meninggalnya Chamber, sang sahabat kemudian ikut menyusul ke alam baka. Keduanya memilih untuk diperabukan sesuai dengan kesepakatan yang mereka buat di puncak piramid mesir. Abu mereka ditempatkan dalam kaleng kopi luwak. Abu jenazah Chamber terlebih dahulu dikirim ke puncak tertinggi Himalaya, menyusul kemudian abu jenazah Edward yang meninggal kemudian. Keduanya akhirnya dapat sampai ke puncak tertinggi himalaya, keinginan terakhir dalam bucket list sudah dipenuhi. Bucket list yang berhasil diselesaikan turut disimpan bersama kaleng abu mereka. Dramatis sekali bukan? Masih banyak sekali hal-hal menarik dalam film ini yang belum saya ceritakan.
Cerita yang menyentuh, tonton saja sendiri kalo gak percaya. Saya aja terharu, apa lagi kalian pria wanita sensitif dan mudah tersentuh hatinya. Segera kunjungi lapak DVD bajakan terdekat.
(If you pursue happiness, it will elude you. But if you focus on your family, your friends, the needs of others, your work and doing the very best you can, happiness will find you)
Categories: Uncategorized
Saya sudah lama tidak memberi hormat pada bendera merah putih,
…tidak hafal teks lagu garuda pancasila,
…tidak tahu Undang-undang dasar 1945 ada berapa pasal,
…tidak paham kenapa pancasila harus lima ayat,
….jengkel saat ketum PSSI yang kepala batu tidak mau turun jabatan.
…sakit hati saat Malingsia mengklaim kebudayaan Indonesia.
Nasionalis-kah saya?
……….hmmm…………
Bahasan tentang nasionalisme muncul karena pagi ini tidur tambahan saya harus dibatalkan oleh suara Pak guru SD yang mengajak siswanya olahraga, suara cemprengnya menggelitik telinga dan akhirnya jadi susah untuk tidur lagi.
Tiap pagi sekolah dasar didepan rumah selalu mengadakan acara apel pagi untuk siswa-siswanya, untuk upacara bendera ataupun sekedar olah raga pagi. Hari ini Pak guru berbicara dengan antusias dengan harapan agar siswa ciliknya mampu memaknai dan mencerna harapan-harapan yang diinginkan. Dari kata-kata yang dilontarkan selama pidato, pak guru kelihatan serius sekali dengan upayanya mencerdaskan bangsa dan mengajarkan pendidikan bela negara. Pak guru mengajak siswanya membaca teks pancasila, mereka juga bersama-sama menyanyikan lagu nasional, pake TOA dengan ampli tentunya. Ceramah pak guru bagus juga, pidatonya bertema kebangkitan nasional.
Tapi, dia sama sekali tidak menyinggung kenyataan bahwa negara ini sebenarnya mencoba bangkit dari posisi jongkok, bukan dari duduk. Yang dibahas cuma semangat para pendahulu kita, dengan harapan murid terpancing untuk memiliki ketegasan yang sama. Tidak disinggung sama sekali mengenai desain kehidupan berbangsa dan bernegara yang masih perlu banyak pembenahan. Prasyarat untuk berakselerasi saja masih belum tuntas.
Entah sejak kapan persisnya kekeliruan ini dimulai, tapi yang pasti kegagalan para pendahulu bangsa juga tidak pernah disampaikan oleh Bu guru saat saya masih kecil. Dulu bu guru saya selalu bicara yang bagus-bagus saja, tidak pernah membuka celah kritis untuk sebuah argumentasi orisinil yang keluar dari pakem. Hasilnya, buku paket pendidikan moral pancasila yang dulu dipelajari dikelas seolah kontraproduktif jika melihat kenyataan saat ini. Kesalahan ini terus menerus diulangi lagi oleh guru-guru lain sampai detik ini, Capee deh..
Nasionalisme yang ideal tidak relevan lagi, sedikit pragmatis memang, tapi itulah realita.
Kecacatan dari bangsa adalah kenyataan yang harus diterima dan dimaknai sebagai titik awal dari perubahan. Seharusnya sekolah-sekolah lebih banyak memberikan porsi untuk mempelajari kesalahan para pengurus negara terdahulu di sesi pendidikan kewarganegaraan dan membuka kesempatan untuk berdiskusi terbuka dengan para siswanya demi sebuah upaya perubahan dan perbaikan.
Orang tidak bisa serta merta mencintai bangsanya jika tidak ada insentif yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Diskusi bebas tersebut diharapkan mengarah pada bahasan mengenai insentif yang sesuai dengan masing-masing siswa. Nasionalisme harus dibungkus dengan beragam insentif yang bukan sekedar wacana normatif. Suatu saat mereka akan mencintai bangsa dan membela negara, mungkin malah jadi militan karena dibalik itu ada kepentingan pribadi yang harus diperjuangkan.
..Wahai anak SD depan rumah, jadilah seorang Nasionalis Kapitalis Pragmatis seperti saya..
(kengawuran ini ditulis setelah membaca esai mengenai teori Locke dan Smith atas kapitalisme dan kepentingan individu)
Categories: Uncategorized
Pertanyaan tersebut pernah muncul sebagai pertanyaan bonus dalam ujian manajemen investasi. Saat itu saya sukses tidak menjawab. Baru setelah ujian dan googling sebentar, saya terkesima dengan pemaparan tentang teori tersebut.
Desain mekanisme. Teori tersebut menyatakan bahwa kebebasan pasar (definisi Adam Smith) tidak terjadi begitu saja tetapi harus dibuat institusinya, harus didesain mekanismenya termasuk juga aturan mengenai insentif. Teori Desain Mekanisme menekankan pentingnya insentif serta mengingatkan bahwa imbauan moral untuk berbuat jujur dalam hubungan akan sulit berjalan. Hari ini saya mencoba mengangkat topik tersebut dalam masalah kehidupan sehari-hari: Kehidupan cinta.
Bayangkan, bahwa wanita dan pria adalah dua institusi yang berbeda dan mau tak mau nantinya akan dipersatukan dalam skenario merger (baca: pernikahan). Pernikahan itu lebih rapuh dari merger/akuisisi dua perusahaan, banyak pernikahan yang berakhir dengan alasan bahwa pasangan dia selama ini bukan yang sebenarnya dia inginkan. Tidak pernah ada perusahaan yang merger lalu memutuskan untuk berpisah karena alasan tidak cocok, pernah ada kasus?
Selama ini selalu dikatakan bahwa jodoh adalah orang yang harus menerima kita apa adanya. Pertanyaannya seberapa baik orang mampu jujur ketika tidak atau belum mampu untuk menilai dirinya sendiri, atau si penilai sendiri tidak tahu poin-poin mana yang sangat krusial untuk dievaluasi. Ketika dihadapkan pada persoalan ini tentunya banyak sekali yang bisa ditilik dari cara perusahaan menyiapkan penggabungan. Mereka menilai 360 derajat, mengevaluasi kelayakan, membicarakan insentif-insentif, mendesain kebijakan-kebijakan pengelolaan dan sistem koordinasi, yang kesemuanya mendorong tiap pihak secara terbuka mengatakan apa yang diinginkan.
Mekanisme keterbukaan dan membicarakan insentif secara gamblang. Sebuah mekanisme yang baik harus menjamin bahwa semua pihak (wanita atau pria) memang punya insentif rasional untuk jujur dalam menyatakan atau berperilaku yang sebenarnya. Untuk kasus-kasus di mana informasi itu bersifat pribadi, misalnya penilaian terhadap seorang pria yang hobi makan pakai tangan di mata wanita, bentuk-bentuk pasar (perjodohan) yang standar tidak mungkin menjamin adanya efisiensi (baca: cepat dapat jodoh).
Makan pakai tangan (ditambah lagi memainkan nasi ditangan layaknya bikin perkedel) seringkali dianggap tidak sopan. ada yang memandang hal itu biasa saja, tapi mungkin ada wanita yang suka lakinya makan pakai tangan dan mulut
belepotan, disisi lain tidak menutup kemungkinan ada juga yang sangat benci sehingga memberi kesan negatif pada pria dengan perilaku tersebut. Ini sebuah
tantangan, sebuah efisiensi dalam pasar perjodohan adalah ketika pria yang doyan makan pake tangan tidak membutuhkan waktu yang terlampau lama untuk bertemu dengan wanita yang napsu kalo liat seorang pria makan pake tangan trus mulutnya belepotan. Bagaimana mekanismenya? Entah, kengawuran saya tidak sampai kesitu.
Btw, ini ada bonus kutipan menarik yang saya dapat dari blog diskusi ekonomi.com:
Daripada bermimpi, lebih baik kaum muda Indonesia bekerja dengan sebaik-baiknya, berpikir sedikit lebih jernih dan tertata, terbuka terhadap perubahan, berani berbeda pendapat, dan menyebar dalam berbagai pandangan. Demokrasi yang sehat tidak menawarkan pandangan yang seragam dan final, tetapi sebuah proses yang tidak pernah berhenti, dan membuka peluang untuk koreksi kesalahan tanpa lewat paksaan dan kekerasan.
Categories: Uncategorized
Ada satu puisi yang sangat saya suka, bahasanya halus banget, pilihan katanya
sederhana tapi pesan implisitnya begitu dalam seakan mencoba menguji rasionalitas kita. Dikarang oleh Pak Sapardi Djoko Damono. Berikut puisinya:
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak
sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu”
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan isyarat yang tak
sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
Keserhanaan dalam bercinta..
Sekarang udah susah membayangkan cinta yang sederhana. Urusan cinta nggak bisa dengan metode seperti dulu lagi yang dengan bodohnya pernah datang kerumah cewek-nembak-jadian-trus-jemput-tiap-pagi-kalo-udah-bosen-tinggalin. Sekarang sih lebih rasional.. tapi kok ya jadi kebablasan gini, semakin pake otak maka variabel yang harus dicek dan ricek jadi semakin banyak. Sialan.
Ibaratnya pencarian cinta sejati itu dianalogikan dengan penelitian empiris aja deh. Dulu waktu SMA kita mungkin cuma punya pertimbangan dua variabel saja, misal “X1: seksi” dan “X2: semok”. Tentunya dengan variabel yang sedikit maka berdampak pada probabilitas kesalahan menjadi sangat besar, tidak heran usia SMA sering banget gonta ganti pasangan karena indikator pengukurannya masih sangat sederhana. Beranjak mahasiswa kita kemudian mengenali berbagai macam indikator tambahan berupa tuntutan-tuntutan baru terkait dengan konsep pasangan ideal, indikator baru itu selanjutnya digunakan untuk melengkapi model yang lama. Sebut saja permodelan kita: model regresi untuk pencarian cinta dan hubungan jangka panjang. (Oke oke sebut saja model regresi ini dengan model Adika. Ya ya..sayalah orang bodoh yang mengusulkan model ini.)
Pengalaman dan wawasan serta pembelajaran hidup menjadikan model evaluatif untuk pencarian cinta berevolusi menjadi semakin komprehensif. Suatu contoh, ketika sudah masuk perguruan tinggi maka model regresi dari kasus keputusan seorang cewek milih cowok mungkin ditambah dengan variabel kemapanan (huh..) yang melengkapi variabel dasar seperti “ketampanan” dan “keren plus gaul”yang sudah digunakan sejak jaman SMA.
Balik lagi ke perbincangan mengenai puisi favorit saya. Apa sih kata yang tak sempat diucapkan si kayu dalam puisi itu? apakah dia memang dituntut oleh keadaan sehingga tidak sempat mengucapkan sepatah kata? ataukah memang kata itu sengaja tidak ingin diucapkan si kayu bahkan ketika dia lantak menjadi abu? Kalau awan nggak ngomong apa-apa sih saya tahu kenapa. Awan tidak perlu memberi isyarat karena memang sudah tiba waktunya dihapus oleh hujan(??) Hoho.
Semua sudah diatur dalam garis nasib. Berpikir sederhana dan nggak usah nuntut terlalu banyak. Kadang hidup menjadi indah jika tidak terlalu banyak tuntutan dan pertimbangan.
Nah, dengan pemahaman baru itu maka saya sekarang mencoba meredefinisi dan kembali ke permodelan yang lebih minimalis, tentunya dengan nilai signifikansi yang jauh lebih baik. Sekarang lagi dalam tahap pemilihan variabel penting yang akan masuk ke model yang telah direkonstruksi. Prosesnya menyisihkan variabel yang nggak terlalu signifikan. Faktor “X1: kesetiaan” dan “X2: agama” masih menjadi yang utama, “faktor X121: tidak doyan pete” udah termasuk yang dihilangkan..hmm.. apalagi ya faktor yang akan dihapus dari model?
umm..maafkan saya pak Sapardi, saya dengan entengnya membuat tafsir konyol atas puisi indah karangan anda.
*buat yang baca, jangan serius serius amat bacanya. ini cuma hasil pikiran nglantur ketika jam 1 pagi masih belum bisa tidur
Categories: Uncategorized